Goresan Hitam Persahabatan - Reezumiku

Thursday, October 17, 2013

Goresan Hitam Persahabatan

#KampusFiksi4 DIVA PRESS

GORESAN HITAM PERSAHABATAN
11 mei 2013

Di dalam ruang sempit inilah biasanya aku menghabiskan waktu. Menggambar, mendengarkan musik atau menulis seperti yang kulakukan saat ini.
Dear Diary, Tak pernah kubayangkan hidupku berubah seperti ini.
Terimakasih, Tlah Kau kirimkan sahabat  yang selalu setia menemani.
Selalu bersama untuk melukis mimpi
Dan inilah anugrah terindah yang pernah kumiliki.
Tiba-tiba seseorang mengetuk lembut daun jendela kamarku yang berada di samping bagian rumah. Ada sebuah celah sempit sekitar setengah meter yang memisahkan rumahku dengan rumah tetangga. Jadi seseorang bisa saja menggedor cendela melewati celah itu. Namun hanya ada satu orang yang biasa melakukannya.
“An...Ana... buka jendelanya”
Seseorang memanggilku dengan suara rendah. Akupun sedikit merangkak untuk mencapai jendela kaca itu. Kusibak tirai yang menghalanginya.
“Kristi! ada apa?” tanyaku pelan.
“Buka jendelanya!” sambil menunjuk gagang jendela agar dibuka.
Kugeser pengunci pintu itu ke kanan hingga tak ada penghalang antara kami. “Ada apa?” masih dengan nada berbisik.
“Ayo ikut aku.”
“Kemana?”
“Ke kali 1.”
“Hah! Sore-sore begini? Ngapain?”
“Udah, Cepetan. Bawa buku gambar dan krayonmu. Bilang aja ke ibumu kalau mau ke rumahku. Pasti di bolehin.”
“Yaudah. Tunggu ya.” Jawabku sambil menutup jendela.
Kristi pindah ke desa ini 7 tahun lalu, tepatnya saat kelas 5 SD. Dialah satu-satunya teman baikku. Sahabat setia yang sangat kukagumi atas perbedaan yang kami miliki. Aku yang pendiam dan menutup diri lebih suka berdiam di kamar mungil ini. Sementara Kristi adalah anak yang ceria, bersemangat, mudah bergaul dan punya banyak teman. Dialah yang mengenalkanku pada dunia yang sesungguhnya. Dunia penuh warna yang mendatangkan banyak inspirasi. “Untuk apa mengurung diri kalau kamu bisa berada di banyak tempat yang indah” itulah perkataannya yang mengubah hidupku.
Meski berbeda, Aku dan Kristi sama-sama menyukai seni lukis. Mimpi masa kecil kami adalah menjadi pelukis terkenal yang bisa menjual karya kami seharga jutaan rupiah. Awalnya aku juga merasa bingung, bagaimana bisa selembar kertas bersolek pensil atau cat bisa bernilai banyak uang. Namun ternyata harga itu bahkan tak layak menandingi sebuah karya seni yang terlahir dari tangan seniman. Potret buatan manusia yang penuh rasa estetis.
***
“Lihat!” Kristi menunjuk pelangi yang menghiasi sungai.
 Warna-warna yang melengkung itu muncul dari permukaan air. Menarik garis setengah lingkaran ke arah gunung dan samar-samar ujungnya menghilang di sana. Meskipun jauh, pelangi itu bercermin di air yang tenang dan menghasilkan cahaya semu yang memesona. Mentari yang mulai merapat ke peraduannya menambah semarak dengan sinar orangenya.
“An, cepetan sini! pelangi itu akan segera menghilang.” Panggil Kristi yang sudah duduk di batu besar tepian sungai dengan krayon kesayangannya.
“Okey,” jawabku sambil mencari tempat nyaman di sebelah Kristi.
Tujuh menit berlalu, pelangi itu pergi. Kami kini hanya mengandalkan ingatan yang kadang mampu menghadirkan subjeknyan jauh lebih baik
“Lihat punyamu, sudah selesai?”
“Ini. Lihatlah!” sambil kutunjukkan gambar di tanganku.
“Wahhh..... Bagus. Ech tapi ini apa?” tanya Kristi penasaran “Seperti gambar orang,” tambahnya lagi.
Aku memang menambahkan bayangan kami berdua di sudut bawah kertas gambar A3 itu. Bagiku, persahabatan kami sama indahnya dengan pelangi sore itu. Gambar yang mampu bercerita pada setiap pasang mata yang melihatnya. Sementara gaya impresionisme melekat pada gambar Kristi. Seorang bapak tua sedang mengguyang kebo2 yang terlihat tepat di bawah pelangi itu menjadi penekanannya
***
Esok hari kami berangkat ke sekolah bersama. Kami juga selalu satu meja sejak dia masuk SD yang sama, SMP hingga kelas 3 SMA saat ini.
“Selamat pagi anak-anak.”
Bu Eni tiba-tiba masuk di kelas, padahal ini bukan waktunya ia mengajar.
“Ibu minta waktunya sebentar. Ada kabar baik yang akan ibu sampaikan. Jadi sekolah kita akan mengikuti lomba melukis. Sebelumnya harus melawan siswa-siswa lain dari seluruh SMA di kabupaten. Hanya tiga orang yang akan melaju ke propinsi. Dan kabar baiknya siswa terpilih itu berasal dari kelas ini.” Jelas bu Eni dengan detail.
Jantungku berdebar kencang, begitu pula dengan Kristi. Ia meraih tanganku ke dalam genggamannya. Kami saling menatap penuh harap.
“Dan siswa itu adalah..... Kristi.”
Kristi merangkulku penuh kebahagiaan. Namun sekejab tubuhku terasa kaku. Kenapa aku malah merasa sakit. Bahkan untuk tersenyum tipis pun mulut ini tak mampu. Nafasku lemah dan tubuhku lunglai. teman-teman mengucapkan selamat untuknya. Aku pun kembali merangkulnya.
“Semoga mimpimu segera teraih kawan.” Di ujung mataku telah siap ratusan bulir air mata yang siap mengalir deras.
***
Dear Diary, Kenapa seperti ini lagi. Kenapa selalu Kristi. Dia sudah mengambil Rudi, satu-satunya orang yang kusukai. Padahal dia sendiri tau aku mencintainya. Namun Dia tak ragu untuk menghancurkan hatiku. Dan dia juga memiliki ayah baik dan menyayanginya yang tak pernah ku miliki. Kini kenapa mimpiku juga di renggutnya? Kenapa dia? Kenapa harus sahabatku? Mungkin jika bukan dia, aku tak kan sesakit ini.
Entah apa yang merasuki diriku. Semakin lama, benci itu semakin meruncing hingga mengubah jalan fikiranku. Segala cara ku lalui agar Ia tak bisa mengikuti kompetisi itu. Kusibukkan dia dengan berbagai tugas bersama agar ia tak punya waktu untuk membasahi cat minyaknya. Bahkan menambahkan goresan-goresan di lukisannya tak segan ku lakukan agar tampak buruk di hadapan bu Eni yang membimbingnya.
“Kristi, lukisan kamu kian hari semakin tak beraturan. Sekolah tidak bisa membiarkan ini. Dengan terpaksa ibu harus menggantimu dengan siswa lain.”
Kristi masih berdiri di depan kelas dengan menundukkan wajah sedihnya.
“Ana. Ibu lihat lukisan-lukisanmu juga bagus, jadi ibu minta kamu gantikan Kristi untuk mengikuti lomba itu.”
“Yes” ucapku dalam hati.
Sangat jelas Ia menampakkan rasa kecewanya atau mungkin dia juga merasa iri karena akhirnya akulah yang pergi meraih mimpi itu.
Tidak buruk, aku menjadi juara dua di kabupaten dan kini harus bersiap untuk melawan para pemenang dari kota-kota lain. Hubunganku dengan Kristi pun merenggang. Bahkan kami bertengkar hebat secara terang-terangan.
“Apa maumu?” ucapku dengan nada menantang.
“Akan ku tunjukkan siapa yang pantas jadi pemenang.” Sahut Kristi penuh emosi. “Kamu bukan apa-apa tanpa ku. Mungkin kamu masih berada di kamar gelapmu itu kalau bukan aku yang membantumu. Menjadi orang culun dan tak pernah punya teman selamanya,” tambahnya menyombongkan diri.
Kalimat yang tak pernah ku sangka akan keluar dari mulutnya. Kemarahanku semakin memuncak. Kini aku tak pernah menyesal telah mencurangi orang sepertinya. Aku sadar aku juga bersalah. Tapi ia lebih buruk dan sama sekali tak pantas di sebut sahabat.
Tanpa ku ketahui dia mengikuti berbagai perlombaan melukis. Dia selalu berada selangkah di depanku lalu memamerkan keberhasilan itu pada semua orang.
“Lihatkan! Siapa yang lebih baik” bisik Kristi pada telinga kananku ketika kami berjumpa pada suatu pameran terkenal di Jakarta setelah kami lulus SMA.
Hatiku semakin risau.  Berbagai macam usaha kulakukan untuk  menyainginya. Hingga Rudi, orang yang pernah menjadi pacarnya kini adalah kekasihku. Namun itu tak membuatku tenang.
“Sebaiknya kamu menghentikan semua ini” Ucap Rudi meredam emosiku.
“Entahlah, aku tak tau harus berbuat apa lagi.”
“Jangan biarkan setan yang membawa dengki itu bersenang-senang di dalam hatimu. Aku tau kamu tak seperti Kristi. Berhenti dan mulailah hal baru yang lebih indah.”
Ku lirik wajah Rudi yang sedang menatap taman di sekitar  kami. Benarkah aku telah memupuk iri dalam hatiku hingga akhirnya tumbuh semakin besar dan akan menumbangkan diriku sendiri nantinya.
“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyaku lirih.
“Berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Aku tak masalah kamu mengejar mimpimu atau ingin memberi pelajaran padanya yang sudah menghianatimu. Agar Kristi juga sadar akan keangkuhan dirinya. Kemunafikannya itulah yang membuatku meninggalkannya.” Rudi menggenggam jemariku dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
“Lalu?”
“Bagaimana kalau kamu cari kesibukan atau hobi lain. Yang tak bisa di lakukan oleh Kristi. Aku yakin tanganmu ini tak hanya bisa menggambar saja.” Sambil memasukkan jari-jariku di sela jemarinya.
***
“Apa tips anda hingga bisa mendapatkan inspirasi untuk novel-novel anda?” Seorang wartawan mengajukan pertanyaan.
“Bukalah hatimu untuk menerima hal-hal baru. Karena ada banyak hal lain yang lebih baik yang bisa kamu lakukan daripada hanya berfikir di satu titik. Kepekaan terhadap lingkungan akan membuat peristiwa sederhana menjadi penghayatan sejati. Hal yang bagi kebanyakan orang tidak menarik tapi mengalirkan banyak cerita bagi seorang penulis” Jelasku dengan ramah.
Kini aku bukanlah Ana si pelukis. Tapi seorang novelis best seller yang telah membawa sebagian karyaku ke layar kaca. Aku bahagia dengan pilihan ini. Hidup bersama cinta pertama yang selalu menjadi sandaran keluh kesah dan bahagiaku. Tanpa ada rasa iri ataupun benci yang meracuni. Sedangkan Kristi telah memiliki galeri lukis yang menampilkan setiap karyanya. Biarlah dia hebat di bidangnya dan aku akan lebih hebat di bidang baru ku ini. Itu lebih baik untuk persahabatan kami yang berakhir di batas mimpi.
***


MY DREAMS COME TRUE

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools