MY LOVELY EMAK, BAPAK... - Reezumiku

Thursday, December 5, 2013

MY LOVELY EMAK, BAPAK...



Aku iri, sungguh aku iri. Kalian beruntung memiliki pena untuk menulis sendiri alur cerita hidup kalian. Cerita yang bisa dengan bebas kalian karang sesuai dengan mimpi dan harapan kalian, meskipun terkadang harus melewati garis tepi yang membuatnya keluar jalur.
Tapi itu tak pernah berlaku untukku. Aku tak pernah punya penaku sendiri. Ada orang lain yang mengatur alur cerita hidupku, orang lain yang dengan mudahnya meliukkan pena pada lembaran kosong hidupku. Bila ada kalimat “Terkurung dalam sangkar emas” mungkin itulah gambaran jelas diriku. Tapi aku hanyalah gadis biasa. Aku bebas, tapi tidak lepas.
Ayah dan ibu telah menggariskan outline-outline yang harus aku lalui agar aku tetap pada jalurku. Sekolah di sekolah formal sesuai keinginan mereka, kursus ini itu, tak boleh kuliah ini itu dan semua yang mereka katakan seolah tak ada kata tidak dalam kamusku. Aku tak pernah bisa melawan, juga tak sanggup melawan. Hanya mengikuti goresan-goresan itu hingga menemukan halaman akhirnya.
Aku marah ketika mereka memaksaku kuliah keguruan yang sangat berbeda jauh dengan mimpiku. Aku ingin menjadi seniman, aku suka seni. Dengan melukis, aku merasa hidup, seolah dunia bisa dengan mudah kurengkuh. Dan aku sedih mereka tak mengerti mauku, kenapa mereka tak bisa mendengar kata hatiku? Aku sepi, sendiri, dengan mimpiku yang terkubur dalam hati.
Ingin rasanya lari sejauh mungkin dan mencari kebebasan, namun aku tak pernah sanggup. Aku terlalu sayang pada mereka yang sejak kecil selalu membuatku tertawa, orang tua yang sangat mencintaiku hingga yang kurasakan cinta mereka terlewat batas.
Kini aku sadar bahwa cinta mereka padaku beralasan. Aku mengerti bagaimana mereka menangis di balik tawanya yang selalu muncul di depanku. Terimakasih ayah, ibu…bila bukan karena kalian yang telah merencanakan dengan matang masa depanku mungkin aku tak akan menemukan keindahan hidup.
Meski awalnya sangat sulit dan butuh waktu lama untuk menerima keadaan, sekarang aku telah menemukan keserasian di dalamnya. Selama ini aku hanya menutup mata dan melihat satu titik, padahal ada banyak titik lain di sekitarnya. Ada hal lain yang lebih indah, menulis. Bila bukan karena paksaanmu dulu mungkin aku tak akan menemukan jati diriku ini. Aku senang, aku bahagia bersama kalian dalam garis yang sudah kalian rancangkan. Terimakasih…

Tulungagung, 10 September 2013

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools