Father's Tears - Reezumiku

Saturday, October 24, 2015

Father's Tears

sumber internet

Untuk pertama kalinya aku melihatmu goyah.

Tapi aku sungguh mengenalmu, ayah. Kau bukanlah orang yang lemah. Kau adalah ayah yang akan menyingsingkan lengan ketika tahu bahwa putrimu diremehkan. Ayah selalu datang ketika aku membutuhkan walau hanya untuk membetulkan rantai sepeda, ban kempes, buku pelajaran yang ketinggalan, atau sekedar bekal sarapan yang lupa kumasukkan tas. Kau memilih menempuh jarak jauh daripada meninggalkanku dalam kesulitan. Ya, kau adalah ayah yang rela menungguku hingga larut malam sementara aku kelayapan bersama teman-teman.

Ketika mendengar kabar dari tetangga bahwa aku mengalami kecelakaan, kau terbirit-birit meninggalkan sawah. Kau tak peduli pada padi yang belum usai dibabat. Hanya membasuh tangan sekenanya dengan air di parit, melupakan kakimu yang masih tak beralas, kau pakai kaos lusuh penuh keringat itu lalu segera menyusulku ke puskesmas. Padahal yang kupikirkan saat itu hanyalah diriku sendiri. Aku tak pernah khawatir bila kau akan cemas mendengarku lumur penuh darah. Aku terlalu egois mengabaikan perasaamu yang luka karena kecerobohanku.

Kau selalu terlihat kuat dimataku. Kau tak pernah mengeluh atas kebutuhan dapur yang selalu beralih harga. Kau juga tak pernah meminta ibu untuk mengurangi sayur atau lauk karena tentu kau ingin aku mendapatkan gizi yang cukup. Kau juga tak pernah menyerah meski berkali-kali aku membuat masalah.

Kau mungkin jarang tersenyum di depanku. Namun aku tahu setiap malam kau berbincang dengan ibu tentangku. Mulai dari kenakalan-kenakalan hingga bangganya dirimu memilikiku. Dari bilik kamarku aku mendengar tawa bahagiamu bersahutan dengan riang celoteh ibu.

Ya, kau adalah orang seperti itu, ayah. Kau bukan orang yang mudah menyerah.

Namun malam itu, untuk pertamakalinya aku melihat cairan bening bermuara di sudut matamu. Aku merasakan tangan gemetar yang bertumpu padaku. Aku mendengar desis rintih yang tak mampu lagi kau tahan dihadapanku.

Hanya malam itu, dimana air matamu luruh menatap tubuh ibu yang terbujur kaku. Enam puluh menit setelah kau menghapus air mataku, aku menyaksikanmu goyah.  Malam itu. Hanya malam itu, tidak pada malam-malam sebelum atau sesudahnya. Karena kau harus bertahan untukku.


Flash fiction
Tadinya mau diikutkan dalam tantangan #NulisBarengAlumni @KampusFiksi bertema #Ayah tapi, sudahlah...


Tulungagung, 23 Oktober 2015
~Reezumi~


1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools