LOCKS OF LOVE - Reezumiku

Tuesday, October 27, 2015

LOCKS OF LOVE

picture: mariannedanetrinidad.com


Mataku dengan jeli mengamati sekitar. Dulunya hanya ada pagar, namun kini juga ada pohon besi bertumpuk gembok warna-warni. Aku menyelisik satu persatu di mana dulu kami mengaitkannya. Aku yakin di sekitar sini, tak jauh dari sisi di mana aku bisa memandang panorama Seoul yang di belah sungai Hangang.
Tanganku meraba-raba, menyingkirkan besi-besi yang berjejal. Ah, benar. Aku menemukannya. Gembok biru bertuliskan namaku, terkunci menjadi satu dengan gembok biru senada dengan nama Satria.
Satria.
Gembok itu juga mengikat kartu kecil berbentuk hati. Satria menuliskan beberapa pepatah cinta di sana. Sementara aku memilih untuk menuliskan mimpi-mimpiku tentang Satria. Harapanku untuk bisa terus bersamanya.
Satria. Lagi-lagi aku memanggil namanya, dalam benakku.
Memoriku mengulas masa lalu. Aku dan Satria datang ke Korea Selatan untuk bekerja waktu itu. Tentu saja kami juga tak mau menyia-nyiakan pemandangan indah kota romantis ini. Malam usai berbisnis, Satria mengajakku ke sini. Telah ia siapkan gembok yang menjadi legenda cinta kami.
 Kau masih ingat, Satria, kita berjanji untuk saling mencintai sampai mati. Cintaku untukmu dan cintamu untukku terkunci di sini. Bersama perasaan kita, kau lempar kunci milikmu sangat jauh. Memang kunciku tak terlempar sejauh milikmu, namun kau tahu cintaku tak kurang untukmu. Hatiku terus mengadu, seolah Satria sedang mendengarkanku.
Perlahan kepingan kenangan itu semakin cepat bergulir. Tentang janji itu, pelukan hangatnya, dan bulan sabit yang kami saksikan bersama. Romansa cinta Namsan Tower dan bulan yang menarik garis senyum di langit bertabur bintang mengukir cerita kita.
Tanpa terasa, air mataku telah bermuara. Bulir-bulir itu mengalir begitu saja tanpa kupinta.
“Satria,” desisku lirih, nyaris tidak terdengar. Aku mencintaimu. Akan selalu mencintaimu sampai maut juga menjemputku, kulanjutkan dalam hati.
***
“Aku berdiri di depanmu, tepat di depanmu,” ucapku berulang kali. Namun tak sekalipun Armiya menoleh padaku.  “Lihatlah! Aku di sini! Aku, Satria kekasihmu. Aku di sini,” sambil menunjuk-nunjuk diriku sendiri.
Aku ingin mengusap air mata di pipinya. Namun aku tak punya daya untuk menggapai Armiya, kekasihku. Kita memang tak lagi sama. Meski aku masih bisa melihat pedih di matanya, namun tanganku tak bisa menghapus laranya. Dan aku di sini, masih di sini, untuk memenuhi janjiku pada Armiya.
 “Armiya, maaf kau selalu menagis karenaku,” kataku lagi, namun gadisku itu masih tak menggubris.
Air mata Armiya semakin luruh.
“Armiya, aku mencintaimu.”
Lalu seseorang berpakaian rapi datang menghampirinya. Lelaki itu dengan mudahnya mengusap pipi lembut Armiya, gadisku. Aku menggertak marah, namun kerasnya suaraku tak sampai ke telinganya.  Lelaki itu, tunggu, bukankah dia kawan lamaku?
***
Kubiarkan semilir angin bergelayut manja padaku hingga menyajikan kenangan-kenangan itu semakin menguras emosiku. Aku terisak pelan. Hidungku memerah.
“Sayang, kamu kenapa?”
Suamiku, yang tadi pamit untuk mencari sesuatu kini sudah kembali. Kupikir ia akan pergi lebih lama, jadi aku punya waktu untuk mengenang kisahku.
Tiba-tiba ia menjajari tubuhku dan memandang lekat ke wajahku. Matanya menerawang, menatap cemas.
“Dek Miya menangis?”
Buru-buru kuusap air mataku, namun ia lebih dulu menyapukan jemarinya ke pipiku.
“Kenapa? Dek Miya mau bercerita?
Ya, itulah suamiku. Ia tak pernah memaksa meski aku selalu mengacuhkannya. Ia bahkan selalu meminta ijin bilamana aku enggan bercerita. Namun ia juga tak pernah marah bila aku memilih untuk membisu.
“Baiklah, Dek Miya bisa cerita lain kali saja.” Ia masih menyeka air mataku yang hampir hilang tak tersisa. “Oh,ya. Aku membeli ini di toko dekat halte bus tadi.”
Suamiku mengeluarkan sepasang gembok dari saku jas-nya. Dua gembok berbentuk hati. Satu berwarna merah dan satunya biru, warna kesukaanku.
“Mereka bilang kalau kita mengunci gembok kita di sini lalu membuang kuncinya ke bawah Gunung Namsan, cinta kita akan abadi selamanya.”
Oh, tidak! Bagaimana bisa aku melakukannya sementara gembok cintaku telah terkunci lebih dulu pada Satria. Perasaanku telah abadi bersamanya. Dan hingga mati nanti, aku akan tetap mencintainya seperti Satria yang membawa cintanya padaku sampai ia mati.
“Kamu percaya dengan semua itu?” dalihku segera.
“Ya, mungkin saja itu benar. Bukankah hati kita seperti gembok yang dikunci. Pasti akan ada satu kunci yang sesuai dengan gemboknya. Meski ada ribuan kunci, namun hanya akan ada satu yang serasi. Bila kita menyatukan hati itu…”
 Sebelum suamiku lebih jauh menguraikannya, aku cepat-cepat menyela. “Itu hanya mitos.” Aku terkekeh kaku untuk menyembunyikan perasaan. “Bagiku, itu hanya trik pemerintah untuk meningkatkan jumlah pengunjung Namsan Park ini.”
Sungguh aku telah berdusta. Bagaimana tidak? Semua yang dikatakan suamiku benar, dan mitos itupun kupercaya. Hatiku yang terkait pada hati Satria abadi karena gembok yang terkunci.
“Ya, sepertinya itu juga benar. Kota ini pasti menciptakan mitos itu untuk membawa orang-orang seperti kita ke sini.” Suamiku membenarkanku dengan logikanya. “Ah, anggap saja kita hanya bersenang-senang dengan cerita itu. Hanya, seperti bermain lalu pergi. Bagaimana?”
Tidak mungkin, aku tidak bisa bermain-main dengan hati. Dan nyatanya hatiku telah terkunci. Tiba-tiba tanganku terasa hangat seolah ada yang menggenggam erat.

Cerita ini diikutkan dalam tantangan #NulisBarengAlumni @KampusFiksi #KF4 dalam tema #Kunci. Gomawo…


NB: Terimakasih buat Sinta di Korea yang mau berbagi ceritanya tentang Namsan Tower. Tadinya mau pakai pict kamu, tapi ternyata nggak sesuai dengan alurnya.


Tulunggaung, 26 Oktober 2015
~Reezumi~

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools