TELAGA SARANGAN, MAGETAN: Sejuknya Tlogo Pasir - Reezumiku

Thursday, December 10, 2015

TELAGA SARANGAN, MAGETAN: Sejuknya Tlogo Pasir

Telaga Sarangan (Telaga Pasir) Magetan, Jawa Timur
Satu kata yang menggambarkan tempat wisata ini yang saya yakin akan dianggukkan oleh setiap orang yang pernah berkunjung ke sini, ialah SEJUK. Saya berkunjung ke objek wisata ini pada bulan Oktober 2014 lalu.
Saya tidak bisa mengatakannya dingin seperti hawa pagi hari di BROMO TENGGER SEMERU. Tapi udara di sini sangat segar, tidak membuat tubuh beku. Siang atau malam, di dalam maupun luar ruangan selalu membuat betah berlama-lama.
Telaga sarangan adalah salah satu objek wisata terkenal di Magetan, Jawa timur. Telaga ini dikelilingi bukit-bukit rimbun dengan latar gunung Lawu, membuat mata dimanjakan oleh kecantikan alaminya. Tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan segala suguhan yang disediakan tempat wisata ini. 



Di pagi hari, saya mengelilingi telaga dengan menaiki kuda. Ini pertama kalinya saya menjadi beban di punggung kuda. Kkekekel. Saya menahan tawa ketika kesulitan menaiki kuda. Saya mengambil ancang-ancang dengan kaki kiri namun jatuh berkali-kali. Padahal, saya pikir dengan tubuh tinggi ini saya akan dengan mudah menunggangi kuda bak pengelana di jaman kerajaan.
Oke, akhirnya saya berkeliling namun kedua tangan saya tak sedetikpun lepas dari pegangan. Saya berkata lirih pada sang pemilik kuda, “Pak, jangan dilepas ya kudanya.” Bapak itu tersenyum.
Sambil mengelilingi telaga, bapak yang berjalan kaki sambil memegang tali kuda itu bercerita banyak tentang telaga Sarangan ini. Menurut legenda, telaga ini terbentuk karena sepasang suami istri yang berubah menjadi naga. Sepasang suami istri ini bernama kakek nenek pasir. Karena itulah telaga ini juga dikenal dengan nama telaga Pasir.  Cerita lengkapnya saya kurang paham karena terlalu fokus dengan jalan kuda yang tidak teratur.
Bapak pemilik kuda itu juga menyarankan saya untuk mengunjungi obyek wisata  Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu di kabupaten Karanganyar yang letaknya tak jauh dari telaga Sarangan.
Turun dari kuda, punggung rasanya mau patah, kaki keram dan jantung masih berdegup kencang. Padahal saya hanya duduk manis di atas kuda, tetapi rasanya seperti mengelilingi lapangan basket 10 kali. Napas masih terseggal-senggal dan keringat bercucuran. Ah, norak deh gue kan.
Tak butuh waktu lama untuk saya tertarik memacu adrenalin kembali dengan menaiki speed boat. Ya, kami dibuat mual, perut dikocak-kocak oleh benturan-benturan kecil perahu dengan air tenang. Rasanya seperti mengendarai mobil yang melintasi jalanan berbatu. Ya, persis seperti ini. Namun di sini saya dibuat basah sesekali.


Apalagi sang pemilik boat menggoda kami (saya dan dua teman) dengan melajukan perahu lebih kencang lalu berbelok tajam. “Huaaa!!!” Saya berkali-kali berterik dengan tangan yang erat mencengkeram pinggiran perahu. Semakin kami berteriak, semakin garang perahu itu dibuat lincah. Lagi-lagi saya berteriak dan tertawa selepasnya. Bahkan, karena begitu menikmati pacuan adrenalin di atas air ini, kami naik boat sampai dua kali. Hish, suara saya sampai serak seperti habis menonton konser.
Untuk biaya naik kuda dan berkeliling mengitari telaga Sarangan, saya merogoh kantong sebesar Rp.50.000 dan Rp.60.000/orang untuk naik boat satu ronde. Teng-teng, kayak di ring tinju saya (abaikan yang ini). Namun berdasarkan kesepakatan yang kami lakukan, kami bisa membayar dengan harga lebih murah. Oh iya, ada pula penyewaan untuk becak air yang bisa di naiki oleh dua orang. Banyak pula yang menawarkan jasa foto dengan harga Rp.10.000 langsung jadi ukuran 4R. Cukup lengkap fasilitas yang disediakan di tempat wisata ini.


Setelah itu saya dan teman-teman berkeliling dengan jalan kaki. Sate kelinci dan nasi pecel adalah masakan khas wilayah ini. Tapi saya belum sempat mencicipi dan lebih memilih belanja di toko-toko cindera mata yang berjajar di sekitar telaga. Ada sepotong baju merah yang saya beli di sini untuk seseorang yang sangat saya cintai. Selama pergi ke suatu tempat wisata di luar kota, yang saya ingat selalu oleh-oleh untuk teman-teman dan keponakan saya. Dan baru kali itu, saya teringat bahwa saya belum pernah membelikan oleh-oleh untuknya. Insaallah saya akan menceritakan ini di tulisan yang lain.
Di tempat wisata ini banyak sekali penginapan dengan berbagai macam fasilitas. Dari dalam tempat menginap, saya bisa melihat pemandangan luar yang tak pernah lelah saya tatap selama di sana.
Pemandangan bukit dan gunung Lawu dari dalam penginapan
Ada satu kejadian yang saya sebenarnya malu untuk bercerita. Waktu itu sudah masuk waktu sholat. Tanpa berpikir panjang, saya berwudhu lalu langsung memasang sajadah dan sholat menghadap utara (menurut saya utara) di ruangan semacam ruang tamu. Ternyata usai sholat, ada petunjuk arah kiblat di langit-langit. Tentu saja arah yang berbeda dari arah saya sholat sebelumnya. Saya menepuk jidat dan tertunduk. Kemudian saya kembali sholat dengan arah kiblat yang benar. Memalukan.
Tapi ini perjalanan menyenangkan yang membuat saya ingin kembali. Sejuk itulah yang membuat saya rindu. Hawa dingin yang menyegarkan dan pemandangan alam yang memanjakan.
 Setiap mengunjungi tempat baru, saja selalu ingin belajar sesuatu dari sana. Tidak perlu hal yang rumit, saya hanya perlu melihat lebih lekat dan mendengar lebih tajam. Dengan begitu saya akan tahu hal-hal baru dan bersyukur bila bisa mencobanya. Dari telaga Sarangan ini saya akhirnya belajar naik kuda dan boat. Kkekekel. Itu hanya hal kecil yang bisa di potret oleh kamera. Tentu saja banyak pengalaman lain yang cukup saya abadikan dalam memori kenangan saya.

Selamat berlibur. Brrrr….

Tulungagung, 5 Desember 2015

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools