Telaga Buret yang Mistis di Desa Sawo, Campurdarat,Tulungagung - Reezumiku

Friday, February 5, 2016

Telaga Buret yang Mistis di Desa Sawo, Campurdarat,Tulungagung


Telaga Buret berada di desa Sawo, kecamatan Campurdarat, kabupaten Tulungagung.  Dari pusat kota (Aloon-Aloon Tulungagung) kita hanya perlu berkendara ke arah selatan. Terus ikuti jalan hingga sampai di pasar Campurdarat (bukan pasar Boyolangu ya). Di pertigaan pasar Campurdarat, ambil arah ke kiri lalu terus saja sampai masuk desa Sawo. Setelah itu akan ada pertigaan dan pilihlah belokkan ke kanan. Ikuti jalan hingga sampai di telaga Buret.

Tempat yang dianggap keramat oleh warga sekitar ini merupakan sumber air dari sungai bawah tanah. Setiap  tahun tepatnya pada bulan Suro di hari Jum’at Legi, desa Sawo, Gedangan dan Ngentrong selalu
mengadakan ulu-ulu atau selamatan di Telaga Buret. Mereka percaya bahwa hal tersebut dapat memberikan keselamatan bagi desa mereka.

Mempelajari budaya dari suatu tempat memang begitu menarik. Meski Telaga Buret masih berada di dalam kabupaten Tulungagung, namun bagi saya, kebiasaan masyarakat seperti ini masih asing. Selamatan di Telaga Buret masih dijaga kelestariaannya oleh masyarakat. Buktinya saat saya berkunjung, masih terdapat beberapa sesajen disekitar telaga.

Waktu itu pula, gerombolan anak-anak setempat berlarian di sekitar kami. Mencoba berinteraksi mereka pasti akan memberika pengalaman baru serta pengetahuan baru. Dan benar saja, mereka memberi tahu sebuah jalan yang mengarah ke sebuah air terjun. Namun karena jalanan sempit dan licin bekas hujan, kami tidak melanjutkan ke air terjun tersebut.

Beberapa hal yang akan ditemui di Telaga Buret ini adalah kawanan monyet yang menyambut pengunjung di dekat jalan masuk. Namun tenang saja, monyet-monyet tersebut tidak galak dan cenderung takut dengan manusia. Mereka hanya suka buah-buahan. Selain itu ada pula rusa yang hanya tinggal beberapa ekor saja. Untuk lebih lengkapnya bisa lihat di video di bawah ini. Selamat menikmati wisata Tulungagung.

Mitos tentang Telaga Buret
Mitos itu sulit dibuktikan, namun sebagian besar masyarakat menganggapnya ada dan nyata. Salah satu mitor yang berkembang mengenai telaga Buret adalah Mbah Djigangdjoyo.

Dikisahkan bahwa Djigangdjoyo merupakan seorang pangeran pada masa Majapahit. Ia menjadi pimpinan segerombol penunggang kuda dimana  mereka merasa kehausan saat melintasi suatu daerah, terutama bayi yang ikut dalam rombongan tersebut. Djigangdjoyo kemudian menggali lubang untuk mendapatkan air minum. Namun, air tersebut terus mengucur dan menggenang hingga menjadi sebuah telaga. Sebelum Djigangdjoyo dan rombongannya pergi, ia berpesan pada warga setempat agar merawat sumber air tersebut.

Akhirnya, tradisi Ulur-Ulur digelar setiap bulan Suro (kalender Jawa). Hal tersebut dilakukan sebagai rasa atas dilimpahkan nikmat berupa air telaga yang selalu ada sepanjang tahun hingga dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Tradisi Ulur-Ulur
Meskipun saat ini, telaga Buret lebih berfungsi sebagai area wisata religi dan sejarah, namun pemerintah Kabupaten Tulungagung nampaknya tak ingin tradisi Ulur-Ulur hilang begitu saja. Perayaan Ulur-Ulur kini lebih beragam dan akhirnya menarik minat wisatawan lokal hingga para turis asing yang kebetulan singgah di Tulungagung.

Tarian reog kendang dan jaranan yang merupakan kesenian asli Tulungagung ditampilkan sebagai sarana hiburan. Kegiatan lain yang dilakukan adalah mengarak manten cilik(pengantin kecil/anak-anak). Orang-orang dan sesepuh desa biasanya mengikuti dibelakangnya dengan menggunakan kostum adat tradisional. Mereka semua menuju telaga untuk melakukan acara puncak berupa tabur bunga atau larung sesaji di telaga Buret.

 Video kunjungan saya di Telaga Buret bisa ditonton di sini:


Selamat berwisata ke Tulungagung ^_^



1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools