Mendaki Seribu Tangga Air Terjun Dholo, Kediri - Reezumiku

Thursday, September 15, 2016

Mendaki Seribu Tangga Air Terjun Dholo, Kediri



Kata siapa berjilbab nggak bisa pergi kemana-mana? Siapa bilang pakai rok membatasi gerak kita? No! No! NO!!! Semua persepsi itu tak berlaku untuk saya dan Nose. Yup, buktinya, dengan memakai rok, kita berhasil menaklukkan serbu tangga Air Terjun Dholo.

Hari raya idul adha kemarin, saat semua orang merayakan dengan menyembelih daging qurban, saya dan Nose memilih untuk mengasingkan diri dari keramaian. Rencana kita untuk jalan-jalan yang beberapa kali tertunda akhirnya terlaksana juga. Yay!!!

Nekat! Perjalanan hari itu bisa saya katakan nekat. Sejak semalam sebelumnya hingga pagi hari tetap saja hujan. Bahkan ketika berangkat, titik-titik air masih saja membasahi aspal jalanan. Namun bukan kita kalau gentar hanya karena hal tersebut. Kita tetap melajukan motor matik. Dengan bekal makanan dari rumah (lagi seneng-senengnya memasak), arah jalan yang entah masih ingat atau nggak, dan yang pasti semangat berlibur yang membara kita berangkat ke Air Terjun Dholo, Kediri.
 
Jalan berkabut
Air Terjun Dholo masih berada satu wilayah dengan Air Terjun Irronggono yaitu di  dusun Besuki, desa Jugo, kecamatan Mojo, Kediri. Dari pintu masuk Air Terjun Irronggono kita masih harus mengendarai motor sejauh 5 km jauhnya. Melewati hutan dengan jalanan naik turun yang menegangkan. Sebenarnya bukan hal itu yang membuat kita ragu dan hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan.  Namun hari itu benar-benar dingin. Dingin yang teramat sangat bahkan baju saya yang berlapis tiga dengan jaket pun masih merasakan hawa menusuk tulang.
Belum lagi kabut tebal yang membatasi jarak pandang dan rintik hujan yang juga belum reda. Saat berkendara dan di depan atau belakang tak ada kendaraan lain, saya merasakan nuansa senyap yang mengerikan layaknya di film-film horror. Berkali-kali saya berbisik pada Nose, “Lanjut nggak nih?”

Dengan tangan yang menggigil, jaket setengah basah, dan udara dingin lereng gunung Wilis, kami akhirnya sampai di sebuah tanah lapang. Di sana terdapat area parkir, warung-warung kecil, masjid dan tempat bermain.  Saya langsung menuju salah satu warung yang sedang tutup untuk menghangatkan diri dari angin yang berhembus pelan.



Air terjun Dholo memang terletak di kawasan pegunungan sehingga memiliki udara yang dingin. Meski tidak hujan suhu di sini tetap dingin. Kalian perlu menyiapkan jaket tebal dan sarung tangan bila tak ingin menggigil seperti saya.

Untuk menuju ke air terjun, kita perlu menuruni anak tangga yang waw... jumlahnya mungkin hampir seribuan. Yang membuatnya cukup panjang untuk dilalui adalah jalurnya yang meliuk-liuk atau berbelok-belok sehingga kita perlu berjalan lebih jauh. Untung saja ada penyangga yang memudahkan kita untuk berjalan. Dibeberapa tangga ada yang rusak akibat tanahnya longsor. Jadi perlu hati-hati agar tidak terpeleset.

Ketika saya sudah berjalan cukup lama hingga kaki mulai terasa pegal, saya ingin bertanya pada orang-orang yang berjalan naik. “Apakah masih jauh?” Jujur, jawaban apapun mungkin akan melegakan saya. Namun tak satu katapun saya lontarkan. Melihat mereka yang mendaki naik terengah-engah sambil sesekali berhenti dan menopangkan tubuhnya di penyangga, wajah lusuh dan ekspresi tak keruan itu sudah cukup menjadi jawaban. Tanpa berkata, mereka seolah melarang saya untuk berjalan lebih jauh.

Tapi nggak perlu khawatir. Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan alam yang sejuk. Pohon-pohon hijau yang diselimuti kabut tipis. Suara air terjun yang mulai terdengar saling beradu dengan suara-suara hewan liar dari tengah hutan. Rasanya sungguh  menenangkan, membawa keheningan yang mendamaikan. Saya sangat menikmatinya meski sesekali terpikirkan bagaimana nanti kembalinya? Haruskah saya mendaki tangga itu lagi. Huh. 

Perjalanan menuruni tangga ini sebenarnya bisa dilalui selama 30-40 menit. Namun karena saya sering berhenti untuk menikmati kicauan burung dan pemandangan hijau yang tersedia, jadi sampainya agak lama.

Oke, selanjutnya saya mulai melihat warung-warung dan kerumunan orang. Sampailah saya di sebuah air yang mengalir jatuh dengan deras. Tebing yang tinggi dengan debit air yang sungguh cepat hingga berkecipak di sana-sini.  Air yang jatuh itu mengalir ke beberapa bagian yang bertahap. Semakin kebawah semakin tenang arusnya. Meski tadi gerimis, ketika semakin turun cuacanya semakin baik dan tak mendung lagi. Dan ketika saya mencelupkan kaki, brrr.... dingin membekukan kulit.  Meski tak sedingin air di Bromo Tengger Semeru, saya tetap membenci dingin.


Pengunjung di sini selalu mengambil foto dengan latar air terjun. Tentu saja tempat sekeren ini yang dengan susah payah ditempuh wajib untuk diabadikan dalam lensa kamera. Tapi saya nggak banyak mengambil foto karena hari itu sangat ramai.

Pengunjungnya pun beragam mulai dari muda mudi, bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak yang masih balitapun berhasil menjangkau tempat ini. Melihat semangat mereka saya jadi malu ketika mengeluh akan jauhnya jarak berjalan kaki tadi. Hehe.

Selain warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat, jajanan, dan aneka cemilan, ada sebuah toilet yang terdiri dari dua bilik. Jadi nggak perlu bingung bila perlu ke toilet. Benar, kebutuhan yang satu ini memang harus tersedia di tempat wisata manapun apalagi kalau tempat wisatanya jauh dari peradaban kayak begini.

Usai menikmati keindahan di air terjun Dholo, saya mulai merasa pusing. Sebenarnya hari itu saya nggak benar-benar fit. Belum lagi saya nggak tahan cuaca dingin. Akhirnya saya naik dengan sisa-sisa tenaga. Saya nggak berani mendongak ke atas. Membayangkan sejauh apa saya turun tadi sudah cukup membuat pening dikepala semakin nyeri.

So far, tempat ini keren banget buat dikunjungi. Semua rasa lelah akan impas dengan pemandangan alami air terjun dan air yang mengalir jernih. Hm... meski saya yakin kalau yang sudah datang ke sini pasti nggak mau balik lagi. Kekkekeee Selamat berlibur >.<

Menuju Lokasi

Berangkat dari Tulungagung, saya ke Kediri lewat jalur Njeli, Karangrejo. Ikuti saja jalan utama hingga masuk kabupaten Kediri. Yang menjadi penanda saya adalah sebuah SPBU pertama yang saya temui. Setelah SPBU tersebut akan ada pertigaan. Kita harus belok ke kiri di pertigaan tersebut. Ada petunjuk jalannya kok jadi nggak perlu takut keblabasan.

Setelah itu kita akan mulai melewati jalur pegunungan jadi jangan kaget kalau jalannya naik turun dan berkelok-kelok. Ikuti saja sampai masuk pintu masuk wisata. Disana kita perlu membayar Rp.8000 per orang / dewasa. Setelah itu kita masih perlu mengendarai kendaraan hingga menemukan gerbang masuk Air Terjun Ironggolo. Yang ingin berkunjung ke sana tinggal masuk saja. Namun untuk menuju Air Terjun Dholo masih harus mengikuti tikungan ke kanan sejauh kurang lebih 5km lagi. Nah ikuti saja jalan yang meliuk-liuk sambil menikmati pemandangan alam yang asri  hingga kota yang tampak dari kejauhan. Indah.

Titik terakhir adalah lokasi wisata Air Terjun Dholo. Di sana kita harus membayar biaya parkir sebesar Rp.3000.- Nah, tempat ini bukan hanya cocok untuk wisata bersama kerabat, teman, pasangan tapi juga keluarga. Coba saja deh. Itung-itung olahraga naik turun seribu tangga.




1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools