Gadis Penghidu Mawar [Cerpen] - Reezumiku

Thursday, November 3, 2016

Gadis Penghidu Mawar [Cerpen]


Aroma segar menyeruak ke sudut ruangan empat kali enam meter tersebut. Wangi surga katanya. Tempat dimana keburukan dan rasa sakit tak mampu masuk melalui celah pintu sekalipun. Hanya ada kebahagiaan yang menelusuk lalu mengantarkan ketenangan.
Gadis berambut kucir ekor kuda itu cekatan menciumi setiap bunga yang telah mekar. Ia mengaturnya dengan sempurna agar mereka tak cepat layu. Buket lili, anggrek, dan bunga daisy sudah tertata indah menunggu sang pemilik menjemputnya.
“Hua...,” pekiknya sehabis menghirup bau mawar yang selesai disusunnya menjadi satu ikat. “Wangi.”. Tanpa sadar ia menunjukkan raut bahagia yang berlebihan.
Hari ini tidak ada yang memesan rangkaian mawar memang. Namun gadis itu tetap membuatnya. Ia yakin, seseorang yang datang setiap akhir pekan dari kota itu akan segera tiba.
“Aliya! Ibu akan ke kebun dulu. Nanti setelah semua pesanan diambil, kamu langsung tutup tokonya, ya,” pinta ibunya sambil buru-buru memakai caping dan menggendong keranjang kosong.
“Iya, bu.” Aliya membalas dengan senyum ke arah berlawanan ibunya berjalan. Ia mendengar derap langkah kaki menjauh kemudian meninggalkan bunyi lonceng yang tertimpa daun pintu.
Aliya kini sendirian. Aroma bunga-bunga di sekitarnya tak pernah membuatnya merasa sepi. Ia betah berlama-lama. Kalau bisa ia ingin tinggal di sana saja, di dalam  ruangan berdinding kaca yang berfungsi sebagai toko bunga. Setidaknya, tempat itu mampu menghipnotisnya dari rasa sakit.
Lonceng di atas pintu berbunyi lagi. Diantara bau mawar yang pekat, menyelusup aroma cypher yang kuat, kombinasi dominan citrus yang berbaur dengan ekstrak bergamot. Aliya tak ragu lagi, pria itu benar-benar datang hari ini.
“Selamat datang, tuan Leon,” sambut Aliya. Seikat mawar masih di tangannya.
“Tuan Leon?” Pria itu terkekeh. “Kedengaran aneh kalau kamu yang ngomong,” candanya.
Leon duduk di kursi dekat Aliya merangkai bunga, kemudian mengamati gadis itu dengan lekat. Matanya menyelisik setiap bagian wajah yang putih dan halus. Ia menyukai bibir tipis kemerahan yang menampakkan satu lesung pipit itu. Gadis paling ceria yang pernah ia kenal.
Bola mata Aliya bergerak-gerak ke sembarang arah sambil bersenandung lagu yang tak jelas. Bahkan gadis itu tak sekalipun menghadap ke arah Leon yang masih mengamatinya. Ya, Aliya tak pernah mengerti kalau Leon selalu memandanginya seperti itu. Sejak lahir, gadis itu tak pernah melihat dunia. Ia tak bisa memandang apapun yang ada di hadapannya
“Kamu tahu kalau aku yang datang?” tanya Leon penasaran.
“Tentu saja. Aku mengenali baumu sejak pertama kamu ke sini sebulan, dua bulan, eh, tiga bulan yang lalu mungkin.” Aliya tersenyum lalu merapikan bunga di tangannya.
“Enam bulan,” sela Leon cepat. Aliya balas mengangguk, tak menyangka sudah selama itu. “Oh ya, kamu bilang bisa mengenaliku dari bau. Memang seperti apa, bauku?” tanya Leon lagi. Ia juga penasaran soal ini.
“Aroma esens bergamot ditambah perpaduan apricot dan labdanum yang segar. Kamu pakai parfum itu kan? Chyper? Bau itu mirip seseorang yang kukenal. Dia pernah cerita tentang bergamot yang buahnya masak pada akhir musim gugur atau awal musim semi. Bahkan dia juga pernah membawakanku buah itu langsung dari Italia.” Pipinya merona mengenang sesuatu kemudian berubah pucat dengan cepat.
Leon tertegun memahami kata-kata gadis itu. “Benarkah? Aku hanya mencium wangi mawar,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Aliya lagi-lagi tertawa sambil menjelaskan. “Kalau kamu hanya bisa menciumi aroma-aroma ini seumur hidupmu, dengan sendirinya hidungmu akan jadi lebih peka. Mawar, lili, anggrek, krisan, bahkan bau parfummu yang bersesakkan dengan bunga-bunga ini. Aku bisa merasakanya.”
Aliya tak punya kemampuan seperti orang normal yang dapat melihat wajah seseorang. Baginya, hanya suara dari ucapan yang bisa membedakan orang yang satu dengan yang lain. Ia sebal karena harus menunggu orang lain berbicara untuk tahu ada orang di dekatnya.
Namun Aliya telah menemukan cara dengan menajamkan indra penciumannya. Setelah lama mengandalkan hidung untuk mengenali jenis-jenis bunga yang dijualnya, ia juga menyadari bahwa setiap manusia memiliki bau yang berbeda.
Beberapa orang yang datang ke tokonya memakai parfum beraroma chyper, citrus, floral, woody, fruity, maupun kombinasi diantaranya. Meskipun memakai parfum yang sama, reaksi wangi yang bercampur dengan aroma tubuh setiap orang akan menghasilkan rasa yang berbeda. Hidungnya sudah cukup lihai untuk membedakannya. Apalagi seseorang cenderung tetap memakai parfum yang sama setiap waktunya.
Bila orang-orang yang ia kenal hanya menggunakan minyak wangi yang aromanya berubah kecut jarak beberapa jam setelah disemprotkan, Aliya masih bisa mengenalinya. Biasanya didominasi ekstrak bunga atau buah-buahan dan masih meninggalkan bekas meski tak begitu menyengat.
Tak sulit pula mengenali ibunya yang bau keringat tanpa parfum atau wewangian lain sekalipun. Semua itu mempermudah Aliya mengetahui keberadaan orang-orang di sekitarnya tanpa melihat, mendengar atau meraba. Aliya bisa merasa sedikit normal dengan penciumannya.
***
Jam kuno yang menempel di dinding berbunyi empat kali. Aliya harus segera pulang sebelum petang. Sebenarnya tak ada bedanya apakah itu siang atau malam karena tetap saja ia tak melihat apa-apa. Namun Aliya tak suka kesunyian malam hari. Hampir tak ada suara dan itu membuatnya merasa sepi.
Senja perlahan menyeret mentari memasuki peraduannya. Walaupun Aliya tak mampu menerawang sinar jingga kemerahan di langit sore, ia bisa merasakan hangat menembus kulitnya. Dari situlah ia mengenal kata indah. Indah yang berarti kelembutan atau kehangatan baginya.
Aliya  berjalan dengan memukul-mukulkan tongkat kecil ke bebatuan jalan. Tak tak tak. Suaranya berisik, beradu dengan deru sepeda pancal dan obrolan pemetik bunga yang sedang bergegas pulang.
Rumahnya tak begitu jauh dari toko. Ia hanya perlu melewati jalan sebanyak lima puluh langkah, lalu berbelok ke kanan setelah mencium bau sedap sate bakar dari sebuah warung. Ia harus menyusuri gang kecil dengan alas tanah yang tak rata sebelum tiba di perkebunan mawar.
Tempat tinggalnya hanya beberapa petak jaraknya dengan kebun mawar. Aliya mengingat itu semua tanpa matanya. Ia juga sudah biasa pulang sendiri karena ibunya harus singgah ke kebun lebih dulu setiap hari.
“Awas! Awas!”
“Rem-nya blong!”
“Aliya, awas!”
Orang-orang tiba-tiba berteriak memperingatkan. Aliya mendengarnya dengan jelas. Telinganya juga menangkap kerencang besi berkarat yang semakin dekat ke arahnya. Ia tahu kalau sesuatu yang buruk akan terjadi bila ia tetap berdiri di sana. Namun ia juga tak tahu ke arah mana ia harus menghindar. Ke kiri atau ke kanan? Bagaimana ini?
Orang-orang semakin histeris, khawatir bila sepeda yang hilang kendali itu benar-benar menabrak Aliya. Kemudian dengan sigap sebuah tangan menarik lengannya lalu menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.
Aliya yang masih terkejut mulai mengatur napasnya. Beberapa detik kemudian, buru-buru ia lepaskan tubuhnya dari dekapan tangan seorang pria.
“Leon?!” ucapnya dengan yakin.
Leon terheran-heran, benarkah Aliya dapat mengenali dirinya hanya dengan aroma parfum yang ia pakai atau bau tubuhnya.
Aliya berubah sikap. Ia yang menyambut Leon dengan tawa tadi pagi kini menjadi marah. Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin menghujat Leon dengan berbagai pertanyaan yang gamang berputar-putar dipikirannya.
“Kamu mengikutiku lagi? Apa aku begitu menyedihkan sehingga kamu selalu membantuku seperti ini?” Aliya tiba-tiba menangis dan ini pertama kalinya Leon melihat gadis itu bersedih.
Memang benar diam-diam Leon selalu mengikuti Aliya. Dari jauh ia memerhatikan dan hanya mendekat bila gadis itu mengalami kesulitan. Kadang ia berpura-pura sebagai tukang angkut bunga, mengubah suara mirip kakek-kakek atau menjadi pembeli lain.
Dia kira Aliya tak akan tahu karena gadis itu tak bisa melihat wajahnya. Namun Aliya memiliki caranya sendiri untuk mengenali sesorang. Leon baru menyadarinya hari ini dan Aliya sudah menyadari keberadaannya sejak lama.
“Bukan seperti itu.” Leon mencoba menjelaskan.
Aliya bersabar mendengarkan alasan Leon yang berputar-putar. Ia hanya tidak mengerti apa niat Leon sebenarnya. Pria asing yang tiba-tiba datang ke tokonya dan membeli satu ikat mawar setiap akhir pekan, sesuatu yang pernah dilakukan seorang pria dari masa lalu.
Leon selalu mengingatkannya pada aroma cypher pria yang mencampakkannya itu. Rasa sakit masih membekas sejak pria itu meninggalkannya tanpa kabar. Tidak mengucapkan kata-kata perpisahan atau setidaknya sebuah alasan yang masuk akal. Padahal baru pertama kali itulah Aliya merasakan jatuh cinta, perasaan yang sulit ia dapatkan.
Leon memang memiliki aroma lain.  Wangi oakmose sebagai  base notes parfum yang biasa dikenakan Leon memunculkan aroma khas ketika bereaksi dengan bau tubuhnya. Wangi yang membuat Aliya merasa hangat berada di dekatnya.
Aku senang kamu datang setiap akhir pekan. Tapi tidak dengan semua kepura-puraanmu. Apa tidak cukup kamu membantuku membawa keranjang, mengantarkanku yang tersesat dan semua hal yang sudah kamu lakukan untukku. Apa kamu kira orang buta sepertiku tak bisa melakukannya sendiri?!” balas Aliya.
Leon menghela napas. Ia ragu untuk mengatakan kebenaran. Tapi situasi ini menyudutkannya. Ia tak mau Aliya terluka. Namun ia juga tak ingin bila Aliya membenci dirinya. Gadis itu, Leon tak bisa melepaskannya.
“Aku peduli padamu. Aku tidak ingin kamu terluka,” jelas Leon.  
Mata Leon hanya tertuju ke satu arah tanpa berkedip. Walau tak bisa melihat kejujuran yang dipancarkannya, namun Aliya bisa mengenali getar suara yang keluar dari kerongkongan pria itu. Ketulusan yang mengalun dalam ucapannya.
Tapi tetap saja jawaban abstrak itu membuat Aliya takut. Ia belum bisa mencerna dengan jelas arti kata-kata yang terdengar di telinganya. Menurutnya, semua hanyalah harapan palsu yang ditujukan pada seorang gadis buta yang cara berjalan saja harus meraba-raba udara.
“Bukankah kamu sudah memiliki seseorang yang kau berikan mawar? Lalu apa maksudmu peduli padaku? Memangnya siapa aku bagimu?” Aliya takut akan merasakan sakit lagi. “Kalau kamu terus berbuat baik seperti ini, aku tak punya pilihan selain bergantung padamu,” lanjutnya sambil terisak. Ia cepat-cepat mengusap tetesan air di matanya.
Sebuah harapan seperti ini telah membuatnya jera. Ia tak mau jatuh cinta pada siapapun karena pada akhirnya ia hanya akan ditinggalkan. Tidak pada lelaki dari masa lalunya atau Leon yang mulai memberinya harapan.
“Jadi, kalau kamu hanya datang untuk pergi, aku minta kamu jangan menemuiku lagi,” tegasnya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
***
Aliya meraba-raba nisan di sampingnya. Sumber cahaya yang ada hanyalah temaram bintang dan lampu sorot mobil Leon yang sengaja dinyalakan. Semua itu tak ada pengaruhnya untuk Aliya. Ia hanya terdiam. Pemakaman itu hening layaknya kuburan di malam hari. Suara binatang malam bersahutan dengan desir angin yang membawa hawa dingin.
Tak ada erang tangisan dari gadis yang masih meringkuk di tanah itu. Sesekali, Leon hanya mendengar isakkan lirih.
“Kakak sakit ketika masih remaja. Dokter bilang sudah tak ada harapan. Namun sejak bertemu denganmu, semangat hidupnya membuat kami, keluarga dan dokter heran. Keinginannya untuk hidup mampu melawan penyakit yang melemahkan raganya.”
Leon mengambil jeda. Suasana di sekitarnya kembali hening sebentar.
“Dia memintaku untuk membeli mawar darimu selama dirawat di rumah sakit. Ia tak bisa meninggalkanmu sendirian tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku mengenalmu lebih dekat dan aku mengerti kenapa kakak bisa bertahan selama itu. Semuanya karenamu.”
Aliya masih terisak lirih, perlahan suaranya semakin jelas. Leon juga tak mampu membendung air di kelopak matanya. Semua tumpah seiring suasana yang senyap memilukan.
“Mawar itu untuk kakak,” tambah Leon.
Aliya mencium aroma mawar di atas gundukan tanah. Kelopak bunga yang dirangkainya tadi siang itu mulai terlepas dari tangkai. Namun wanginya masih semerbak memberikan rasa nyaman.
***
Satu tahun yang lalu…
“Aliya,” pria itu memanggil gadis yang sedang asik menghidu mawar di sekitarnya. “Aliya! Apa kamu mendengarku?” panggilnya sekali lagi agar diperhatikan.
“Iya, aku mendengarmu bahkan ketika kamu hanya berbisik,” jawab Aliya santai sambil tetap menghidu mawar.
“Kalau ada seseorang yang mendonorkan mata untukmu, apa kamu akan senang?” Pria itu sudah lama ingin menanyakannya. Sisa hidupnya tak akan lama lagi dan dia ingin gadis yang ia cintai bisa melihat dunia dengan mata miliknya. “Bukankah kamu penasaran seperti apa sinar kemerahan yang membuat kulitmu terasa hangat?”
“Aku tidak mau.” Aliya masih menjawab dengan santai. Satu lesung pipit tenggelam di sudut bibirnya.
“Tidak mau? Kenapa?”
“Ini!” Gadis itu menyodorkan satu tangkai mawar yang baru saja dipetik dari kebun. “Ciumlah. Bukankah aroma mawar ini menenangkan pikiranmu?”
Aliya kemudian meraba-raba udara hingga menemukan tangan pria di depannya. Ia menarik tangan itu dan memberikan tangkai mawar di telapaknya. Sementara itu, pria di hadapannya masih bingung dengan maksud Aliya melakukan hal tersebut.
“Wangi mawar ini menenangkan dan kau bilang warnanya juga indah, namun duri di tangkai ini menyakitkan. Jemariku berkali-kali berdarah karenanya.” Aliya mulai menjelaskan.
“Sama seperti senja dan semua isi dunia yang kau bilang itu. Memang terdengar indah, namun aku juga tak tahu seberapa besar sakit yang akan kurasakan jika melihatnya dengan mata.” Aliya mengambil napas panjang. “Aku lebih suka seperti ini. Aku hanya suka menghidu mawar. Aku sudah cukup bahagia dengan merasakannya, tanpa harus melihat,” jelas Aliya.
Pria itu tertegun. Kemudian ia memejamkan mata dan menghidu mawar yang telah berpindah ke tangannya. “Kalau begitu, suatu hari nanti aku akan mengirim seseorang untuk menjadi matamu. Seseorang yang aku yakin bisa membuatmu merasakan keindahan dunia tanpa melihatnya dengan mata.”
***END***


1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools