ONLY FOR YOU [Cerpen] - Reezumiku

Friday, November 4, 2016

ONLY FOR YOU [Cerpen]

Akankah cinta mengerti rasa di hati?
Cinta... terdakang memaksa kita untuk pergi. Seperti Nindia, yang terpaksa harus meninggalkan suami karena rasa cintanya yang begitu dalam. Akankan dia mampu mengatasi rasa di hatinya??


Aku membuka mata dan lagi-lagi hanya memandang gelap. Semakin pekat saja rasanya. Sementara itu jari-jariku sibuk memainkan sebuah cincin yang telah lama kutanggalkan. Emas yang dipadu permata hijau berbentuk hati itu memang tak lagi tersemat di jariku, namun aku selalu menyimpannya, sama seperti selalu kusimpan kenangannya.
“Coba kamu pikirkan lagi, Nin. Aku tidak memaksamu, tapi ini demi kebaikanmu.” Ralin sedikit berteriak agar terdengar olehku yang duduk santai di beranda.
Kudengar derap langkah kakinya dari dalam rumah mendekat ke arahku. Sendal lantai itu berkeriat akibat terseret kakinya yang besar. Kemarin dia bilang berat badannya naik tiga kilo. Aku tidak heran karena nafsu makannya bertambah belakangan ini. Aku juga tidak peduli selama ia tak mengeluh karena bajunya kekecilan atau sepatunya tidak muat lagi. Tapi kali ini dia malah menggunakan kelebihan tubuhnya itu untuk memojokkanku.
 “Kamu masih muda, langsing, cantik, dan pintar. Tidak ada yang akan mempermasalahkan keadaanmu.” Suaranya bergetar. Ini pertanda kalau Ralin mulai serius.
“Apa gunanya itu semua kalau aku…”
“Kali ini beda,” Ralin segera memotong ucapanku. Ia duduk di bangku sebelah hingga kayu tua yang didudukinya berderit. “Aku sudah cerita tentangmu dan dia menerima semuanya. Dia tidak apa-apa, Nin,” tegasnya sekali lagi. “Lelaki ini menerimamu apa adanya. Dia tidak masalah dengan statusmu yang pernah bersuami dan dia juga tak akan menuntut seorang anak darimu. Dia laki-laki yang tepat, Nin.” Ralin melanjutkan.
Aku tak bisa membalas ucapan Ralin kali ini. Aku hanya diam yang berarti memberikan keputusan kepada Ralin yang mungkin lebih bisa berpikir panjang daripada aku. Ia pun langsung mengambil telepon dan mengatur waktu pertemuanku dengan seorang laki-laki yang ia bilang sempurna itu.
Ralin memang sering membujukku untuk dikenalkan kepada teman-teman maupun teman suaminya. Aku akui ia berniat tulus demi kebahagiaanku. Namun berkali-kali aku menolak tawarannya dengan alasan yang sama. Aku hanya tidak mau mengecewakan lelaki manapun lagi dengan keadaanku seperti ini. Lagi pula aku juga tak memungkiri bahwa aku belum bisa melupakan Satria. Tidak, lebih tepatnya, aku tak akan pernah bisa melupakannya.
***
Pertemuanku dengan Satria bisa dianggap konyol. Ketika itu ia masih karyawan magang di sebuah perusahaan. Agar bisa menjadi karyawan tetap, Satria berusaha keras untuk mencari formula aroma parfum terbaik untuk perusahaannya.
Saat itulah ia bertemu denganku dan bilang kalau tubuhku wangi. Aku langsung menamparnya waktu itu. Tentu saja kupikir dia orang cabul yang ingin menggangguku. Ia terus mendekatiku dan barulah dia menjelaskan tentang dia dan pekerjaannya.
Kami semakin sering bertemu dan memutuskan untuk menjalin hubungan. Namun semua tak  seindah yang kuharapkan. Kami sering bertengkar karena masalah-masalah kecil. Banyak hal yang membuat kami terjebak pada kesalahpahaman.
Ketika aku masih menjadi mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi dan Satria telah memiliki jabatan di perusahaan, sebuah masalah lagi-lagi menguji kami.
Pagi-pagi sekali, Satria menjeputku di rumah lalu mengantarku ke kampus. Ia memang selalu mengantarku setiap hari. Hingga aku menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
“Gaya rambutmu berubah, ya?” tanyaku padanya sambil menata sedikit rambutnya yang terkena angin.
“Nggak kok, memang sudah begini sejak seminggu lalu. Oh, aku semakin keren ya?!” candanya.
Aku kadang dibuat kesal dengan sikap percaya dirinya yang berlebih. Kuakui Satria memang punya wajah tampan dan tubuh ideal dengan tinggi badan dan otot-otot seksi. Alisnya yang tebal dengan bola mata cokelat yang ia dapat dari gen ayahnya itu juga menambah pesonanya sebagai lelaki idaman bagi setiap hawa.
Setidaknya aku bisa mengimbangi kesempurnaannya dengan parasku yang tak kalah memesona. Aku tidak menyombongkan diri. Tapi kecantikan yang kumiliki ini sudah dinilai banyak orang. Buktinya aku pernah menjadi putri kampus dan beberapa kali ditawari menjadi model namun selalu kutolak karena bukan bidangku.
Siang harinya aku menyadari bahwa ia mengenakan setelan kemeja baru waktu menjemputku. Satria juga memakai parfum yang kuhadiahkan padanya. Kombinasi citrus yang dominan dengan esensial bergamot itu tercium pekat pertanda ia baru memakainya. Aku tidak mungkin salah. Bau chyper yang khas dari parfum produksi Itali itu memang spesial.
Dari semua parfum, hanya jenis aroma itulah yang menjadi favorit kami berdua. Bagiku, campuran esens bergamot yang buahnya hanya masak pada akhir musim gugur atau awal musim semi itu  mampu mengikat berbagai aroma lainnya. Seperti menghadirkan rasa lembut yang menyegarkan serta memberi sensasi romantik dari perpaduan wangi apricot dan labdanum.
Sedangkan Satria menyukai chyper floral bunga lili yang kupakai. Wangi oakmose sebagai base notes[1]-nya yang segar ketika bereaksi dengan aroma tubuhku selalu membuatnya  merasa hangat. Dia bilang aku dan chyper adalah komposisi sempurna sebuah minyak wangi. Ah, dia memang pandai merayu.
Tapi yang membuatku curiga, kenapa dia memakai parfum itu hari ini. Tidak ada yang spesial hari ini. Seharusnya ia hanya memakai parfum produksi perusahaannya seperti biasa. Bukankah parfum mewah itu hanya dipakai saat kami berkencan atau hari-hari spesial lainnya. Ada apa dengan hari ini?
Harusnya aku sudah mulai curiga bahwa banyak perubahan padanya pagi ini. Tapi aku tak mau menimbulkan kesalahpahaman antara kami. Aku tak mau bertengkar karena aku sudah memutuskan untuk percaya padanya.
Menjelang waktu makan siang, aku datang ke kantornya. Aku akan mengajaknya makan siang di restoran seafood langganan kami. Tapi Satria tak ada di kantor. Rekannya bilang ia baru saja keluar.
“Halo,” kuputuskan untuk menelponnya saja.
“Ah, sayang. Ada apa? Apa kamu merindukanku?” sahutnya dari seberang. Lagi-lagi dia menggila dengan kepercayaan dirinya.
“Ia aku rindu. Rindu sekali.” Aku menambahkan satu kecupan di telepon. Ah, ternyata aku tak kurang gila darinya. “Kamu sudah makan siang?”
“Aku masih di kantor, sepertinya akan makan siang sekalian dengan klien,” jawabnya.
“Di kantor?” Aku terkejut. Jelas-jelas rekannya bilang dia sudah pergi. “Kamu tidak sedang berbohong, kan?”
READ MORE >>>


Picture; http://www.designaweddings.co.nz/wp-content/uploads/2010/09/Wedding-Photo.jpg


[1] Jenis aroma yang muncul setelah top notes dan middle noter dari parfum. Base notes adalah aroma yang bertahan paling lama.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools