Tulungagung Dadi Kedung [Cerpen Lokal] - Reezumiku

Thursday, November 10, 2016

Tulungagung Dadi Kedung [Cerpen Lokal]


Ojo dibabat seng kui[1],” teriak mbah Mi setelah meludahkan bekas kinangnya. “Mengko Tulungagung dadi kedung.[2]
Bocah laki-laki yang baru menyambitkan celuritnya itu mengotot tertahan. Matanya melirik ketus pada Mbah Mi yang membungkuk memunguti rangting-ranting retak. Ia gagal menghubungkan antara Mahoni yang ditumbangkannya dengan Tulungagung yang menjadi kedung.
Kayu niki luweh awet menawi dibakar ting pawonan, mbah.[3]” bantah bocah itu. Telunjuknya mengarah pada Mahoni kecil berumur dua tahunan yang urung ditebangnya.
Bukannya menang melawan si mbah yang sudah keriput, bocah itu malah menjadi sasaran umpatan. “Wong kebacut!!!” Mbah Mi marah-marah dan memaki entah kepada siapa.
Angin bertiup kencang menghantam Mahoni dan Akasia yang kokoh menopang hutan yang mulai jarang. Hembusannya menggoyangkan dedaunan, seolah menganggukkan perkataan si mbah. Ah, mana paham bocah itu tentang alam. Padahal darinyalah ia mendapat kehidupan. Bocah itu hanya tahu tentang menanam ketela, ngarit, dan mengumpulkan kayu bakar untuk mengisi perutnya serta perut lembu titipan tetangga.
***

Sambil memangku-ku di atas kakinya yang tak sempurna bersila, bapak menyeruput kopi hitam buatan ibu. Lalu ia melanjutkan cerita dari buku kusam yang kupegang. Sampulnya berwarna coklat polos. Ada angka 1976 di ujung bawah. Juga terdapat beberapa huruf disana, tapi aku belum bisa mengejanya dengan benar.
Buku itu seukuran tiga jengkal tangan mungilku. Isinya gambar-gambar yang cenderung abstrak karena luntur dan kabur. Katanya, gambaran itu dibuat puluhan tahun yang lalu oleh seorang bocah berkulit legam. Didalamnya juga ada beberapa tulisan di setiap halaman, tapi lagi-lagi aku belum bisa mengejanya. Pak guru baru saja mengajariku tentang Ba Bi Bu. Akhirnya aku menyerah pada bapak untuk membacanya.
Usai meletakkan cangkir yang sebagian isinya telah berpindah penampungan, bapak kembali kembali bercerita. Aku bersiap mendengarkan sambil menyesapi ujung jempol yang semakin terasa hambar.
***

Bocah berkulit gelap dengan tanda lahir kehitam-hitaman dipunggungnya itu kembali merapatkan telinganya. Sudah bosan ia mendengar ocehan si mbah tentang para penebang hutan. Apalagi ketika si mbah mulai menyumpahi mereka. Kata-kata Mbah Mi bisa berubah kasar. Pahahal yang bocah itu kenal, si mbah adalah orang welas lan asih.
 “Singkek gendheng. Wong kutho ra nduweni coro. Rumangsane urip mung nggo dewe’e ae.[4]
Bocah itu merasa sedih bila si mbah mulai menggerutu. Lengkingannya lebih kuat daripada burung hutan. Padahal tidak semua singkek sama seperti yang dikatakan si mbah. Contohnya saja Cik Hwan. Wanita paruh baya yang menikah dengan pak Kardi itu sering kali membawakan makanan untuknya. Mungkin karena ia iba pada yatim piatu yang hanya tinggal dengan mbahnya.
Isu yang berkembang semakin membuat Mbah Mi geram. Ia semakin sering menyumpahi para singkek dan pegawai kota yang menggunduli lereng gunung Wilis. Kata para tetangga, hutan itu akan dijadikan kebun. Tapi bagi si mbah, cengkeh atau teh bukanlah sahabat baik tanah kelahirannya.
***
Hari ini Mbah Mi menyuruh cucunya mencari kayu bakar dan rumput sendirian. Ia berpesan agar cepat pulang bila hari mulai petang. Sesungguhnya ia tak tega. Apalagi hujan sejak kemarin tak juga reda. Namun apa daya bila tulang mulai lapuk dimakan usia. Kinang yang dikunyahnya tiap hari nyatanya hanya membuat kuat giginya saja, tidak dengan tubuhnya yang kini harus ditopang sebatang kayu untuk berjalan.
Bocah lelaki itu berlari lincah di pinggiran kali Song. Langkahnya cepat, selaras dengan debit air yang deras mengalir. Pepohonan Mahoni yang rindang di sisi selatan kali memayunginya dari hujan. Bocah itu bersyukur orang-orang kota hanya menebang disebelah utara. Kalau pohon-pohon ini ikut roboh, pastilah tubuhnya tak akan kuat diserbu titik-titik air dari langit.
Celurit yang dia selipkan di celana tadi dengan cepat menumbangkan rumput-rumput segar. Bocah lelaki itu membabat seperempat bagian yang rimbun.  Rasanya cukup untuk makan dua lembu milik tetanggganya.
Hujan semakin lebat. Gemuruh juga mulai garang menantang hutan. Mereka beriringan mendatangkan kilat yang menggelayut di langit gelap. Sudah tiga hari ini senja diusir pergi.
Kali song yang tadinya bening perlahan mulai berubah cokelat. Bocah itu lekas mengambil rumput hasil jarahannya dan beberapa ranting pohon. Ia ingat pesan si mbah untuk segera pulang.
***
Sore itu, ia terkejut melihat gubuk kecilnya dikerumuni orang-orang desa. Mereka saling berbisik, namun bocah itu tak percaya dengan suara-suara samar yang didengarnya.  Tubuhnya gemetar. Cemas. Ia yang kedinginan tak lagi bisa merasakan apa-apa.
Cik Hwan dan Pak Kardi menghampiri bocah itu. “Rene le[5]…”
Bahasa Jawa orang Cina itu tak begitu buruk. Ia memang lahir di tanah Jawa ini. Tapi, nada bicaranya kali ini gusar, tak seperti biasa. Bocah itu enggan bertanya. Ia ingin menutup telinga berharap yang dikatakan orang-orang tadi tidak benar.
Kowe sing sabar yo le. Ora usah wedi. Urip wes ono sing nggawe.[6]” Pak Kardi menepuk-nepuk pundak bocah itu dengan telapak tangannya.
Simbah pun dipundhut Gusti Allah,[7]” tambah istrinya.
Bocah itu merasakan detak jantungnya cepat, ikut menjalar keseluruh tubuh yang sejak tadi membeku. Bukan kaku karena dinginnya sore itu, tapi sebab takdir yang terasa pilu. Takdir yang merenggut keluarganya tanpa pandang bulu.
Bocah itu merasa hampa, seolah ada yang menghantam dadanya dengan keras. Begitulah takdir merenggut setiap anggota keluarganya. Bahkan ia tak mengenal bapaknya sejak kecil. Ibu dan adiknya yang tak sempat lahir di dunia pun ikut dibenamkan dalam tanah. Dan kini, ia kehilangan si mbah yang biasanya marah-marah sendiri, si mbah yang telaten menidurkannya dalam temaram obor bambu, si mbah yang terakhir kali berpesan agar cepat pulang malah mengingkari janjinya untuk makan tiwul selepas Ashar.
Kini ia hanya bisa berpura-pura tegar. Air matanya pun enggan keluar atau mungkin telah habis untuk menangisi satu persatu orang yang meninggalkannya. Bocah itupun mengabaikan kerumunan orang yang menghantarkan duka. Kemudian ia berlari tanpa alas kaki. Yang ia inginkan hanyalah pergi. Pergi sejauh mungkin hingga tak ada siapapun yang bisa menemukannya.
***
Hari telah larut petang dan bulan masih enggan untuk datang.  Awan bergumul kian menebal. Angin meghempaskan tetesan air menjadi semakin besar. Dedaunan berayun-ayun mengajak hutan dan penghuninya untuk menari-nari. Entah bagaimana bocah itu masih sanggup bertahan dalam terpaan hujan yang masih saja menghantam. Ia terus berjalan untuk memarahi Tuhan, meski tetap kalah kuat dengan alam yang mengaum geram.
Gemuruh semakin tangguh. Kilat menyambar-nyambar menumbangkan sebuah pohon besar. Bocah itu terkejut, segera turun dari cikar glodek yang ditumpanginya dan berlari mencari aman. Lalu ia mendengar teriakkan orang-orang. Dari jauh, ia melihat air mengalir ke jalan-jalan. Lajunya semakin cepat kearahnya. Bocah itu kembali berlari, mengerahkan sedikit tenaga yang tersisa untuk menyelamatkan diri.
Air itu semakin banyak dan berubah menjadi gelombang. Orang-orang panik dan berteriak. Beberapa dari mereka hanyut terseret arus. Juga ternak dan hasil kebun mengambang dibawa air yang liar menerjang. Bocah itu berpegang kuat pada Mahoni di dekatnya. Namun tangan pendeknya tak mencapai ujung jari lainnya. Ia hanya berdoa agar pohon itu-yang ditanam neneknya, berbelas kasih padanya.
Sedetik kemudian semuanya menjadi gelap. Tubuh dan napasnya tergenang. Ia tak bisa melihat apa-apa, tak bisa mendengar apa-apa. Ia hanya merasakan sesak yang menghantam dada. Beberapa kali tubuhnya terbentur entah apa. Terombang-ambing dalam air yang menenggelamkannya.
***

Aku menggigit jari-jari jempolku semakin keras, hingga tak kurasa sakitnya. Takut dan kasihan mendengar cerita bapak. Namun aku masih ingin mengetahuinya. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada bocah laki-laki itu selanjutnya. Tapi bapak terdiam cukup lama. Ia hanya menyeka pipinya yang basah.
“Apakah bocah itu meninggal?” tanyaku penasaran.
Bapak kaget, mungkin bertanya-tanya bagaimana bocah sepertiku akan bertanya seperti itu. Ia lalu menengadahkan kepalanya ke atas, menahan air mata sekaligus mencari-cari kepingan cerita yang tertinggal.
“Selang beberapa hari bocah itu tersadar. Ia tak begitu ingat apa yang terjadi sebelumnya. Tiba-tiba ia terbangun dan sudah berada disebuah ruangan yang luas. Tempat itu tampak seperti rumah pak lurah, namun lebih kokoh karena berdinding bata. Perlahan ia mengarahkan pandangan ke setiap sudut yang bisa dijangkaunya.” Bapak kembali mengusap pipinya.
“Bocah itu merasakan sakit yang teramat perih. Kakinya… ia tak bisa merasakan kaki kirinya. Beberapa orang berkerumun, satu diantara mereka berkata akhirnya ia telah sadar. Ya, saat itulah bocah itu menyadari bahwa tubuhnya tak lagi sempurna. Ia kehilangan salah satu kakinya.
Suara bapak tertelan deru truk-truk besar pengangkut kayu yang baru saja melintas. Mesin berjalan itu berselingan membawa kayu, pasir bahkan batu-batu kali. Lajunya meninggalkan debu yang berterbangan hingga masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Aku terbatuk. Lalu  kulihat kaki bapak yang menopang tubuhku sejak tadi. Kulitnya yang gelap dan mulai keriput itu tak pernah bisa bersila sempurna. Ya, karena kaki kirinya telah lama tiada.
Sambil memandangi truk-truk besar itu, aku mengamini doa bapak di akhir ceritanya yang berharap Tulungagung tak lagi menjadi kedung.
***

Cerpen ini pernah diikutkan lomba menulis FBM2015


Picture: http://wallpaperswide.com/tree_trunk_and_roots-wallpapers.html


[1] Jangan ditebang yang itu!
[2] Nanti Tulungagung tergenang air.
[3] Kayu ini lebih tahan lama kalau dibakar, mbah.
[4] Orang Cina gila. Orang kota yang tak punya tata krama. Mereka kira hidup Cuma milik mereka saja.
[5] paggilan untuk anak laki-laki
[6] Kamu yang sabar ya nak. Tidak usah takut. Hidup ini sudah ada yang mengatur.
[7] Nenekmu sudah dipanggih Allah.

3 comments:

  1. Keren ceritanya, dapet juara berapa nih ?
    Salut salut πŸ˜‰πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... terimakasih. Sebenarnya masih banyak kekurangan :-)

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools