Seminar Sastra dan Perempuan Tulungagung - Reezumiku

Thursday, January 19, 2017

Seminar Sastra dan Perempuan Tulungagung


Tepatnya tanggal 22 Desember 2016 lalu, sekaligus memperingati hari ibu, saya mengikuti seminar Sastra & Perempuan yang diadakan oleh Pena Ananda Club. Acara yang diperuntukkan bagi Perempuan itu memang sangat saya nantikan. Ada tiga wanita hebat yang telah dihadirkan untuk memberi materi khususnya dibidang kepenulisan.

Yang pertama, Bunda Tjut atau yang lebih akrab dengan nama facebooknya Bunda Zakyzahra Tuga. Siapa yang tidak kenal founder Pena Ananda yang di besarkan bersama suaminya, Pak Siwi. Hampir semua penikmat sastra dan budaya serta yang berkecimpung di dunia baca tulis di wilayah Tulungagung sudah mengenal mereka. Kiprahnya menebarkan semangat membaca dan menulis terutama di kabupaten tempatnya tinggal telah membakar semangat saya pribadi, untuk tidak menyerahdalam menulis.

Saya kira tidak banyak penulis yang berasal dari Tulungagug dan sekitarnya. Namun setelah mengenal beberapa yang bergelut dengan sastra, saya mulai tahu tentang Pak Wawan Susetya, novelis yang telah melahirkan puluhan karya, Pak Budi Harsono, Pak Cinde laras yang mahir berpuisi, dan beberapa orang lainnya. Hal tersebut membuat saya semakin percaya diri untuk terus mengasah kemampuan menulis. Apalagi ada satu sosok penulis lagi dari Kediri yang saya temui dalam seminar kemarin yaitu mbak Ririn Rahayu A.N.
Bersama Mbak Ririn Rahayu Astuti Ningrum
Beliau mengajar di SD Pojok Ngantru. Di sela kesibukkannya tersebut, Mbak Ririn sudah melahirkan banyak karya bernuansa kehidupan sehari-hari dari sudut pandnag seorang perempuan. Saya memang belum pernah membaca karya Beliau. Tapi mendengar cerita dari Mbak Ririn sendiri membuat saya tertarik untuk memburu bukunya.

Yang terakhir adalah penulis dan sastrawan Bali bernama Cok Sawitri. Awalnya saya tidak tahu apapun tentang beliau karena memang saya sangat jarang membaca novel sejarah klasik. Ada satu buku yang saat itu dibawa Bunda tjut kemana-mana yaitu TANTRI. Dari situ saya mulai mengenal salah satu karya beliau ini.

Perempuan yang lebih suka dipanggil Cok saja ini adalah seorang sastrawan yang memiliki karakter kuat. Saya sampai berpikir panjang bagaimana untuk menerapkan apa-apa yang beliau katakan agar bisa menghasilkan sebuah karya. Tapi saya juga banyak belajar dari beliau terutama bagaimana seorang penulis harus bersikap.

Bersama Cok Sawitri
Itulah seminar di akhir tahun saya. Semua peserta seminar juga melakukan praktik menulis. Saya yang waktu itu habis sholat langsung ditodong pertanyaan oleh Cok, "Kamu, pilih puisi atau cerpen?"

Saya yang ketinggalan beberapa menit itu kebingungan namun beberapa detik kemudian saya mantapkan jawaban, "Cerpen." Ya, itu pasti. Meski diberikan waktu satu jam, saya tidak akan sanggup merangkai puisi walau satu baris saja. Poetry is my weakness. Apalagi dibatasi limabelas menit ketika itu.



Thanks a lot sudah baca. Doakan saya bisa membuat satu cerpen yang telah disepakati bersama bisa selesai tanggal 22 Januari ini. Tantangan. tapi semoga saya bisa.

3 comments:

  1. ditunggu upload'an cerpennya di blog mbak :)

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools