Pendakian Pertama Melihat Sunset di Gunung Gudik, Gondang, Tulungagung - Reezumiku

Wednesday, May 24, 2017

Pendakian Pertama Melihat Sunset di Gunung Gudik, Gondang, Tulungagung


Lebih dari sembilan tahun nggak pernah menapaki jalanan menanjak layaknya mendaki gunung membuat saya ngos-ngosan kali ini. Gila!!! Padahal saya sudah berkoar-koar sambil menyincingkan rok. "Apa susahnya, tinggal jalan aja." Haha...

Nyatanya, memori berpetualang saya terhenti di masa SMP. Hati ini tidak ingin mengakui kalau raga sudah semakin kehilangan daya seiring bertambahnya usia sekaligus jarangnya olahraga. Arg!!!! Saya saja kesal pada diri sendiri, kenapa bisa jadi selemah ini. Baiklah! Saya akui pada kalian bertiga, saya menyerah.

Sebenarnya, jalur mendaki Gunung Gudik yang ada di desa Notorejo, kecamatan Gondang, Tulungagung ini nggak begitu curam dan tergolong mudah untuk pendaki pemula, bahkan bagi siapapun yang nggak pernah naik gunung. Namun, tanjakannya juga cukup melelahkan buat makhluk lemah seperti saya. *Uhuk

Gunung ini sudah mulai ramai dikunjungi bahkan ada beberapa pendaki yang bermalam di sana. Akses menuju lokasi bisa menggunakan sepeda motor atau mobil. Setelah itu, kendaraan  bisa kamu titipkan di rumah warga dengan memberi imbalan uang selayaknya untuk parkir. Kemudian kamu bisa bertanya pada warga sekitar tentang arah untuk menuju ke puncak. 

Langkah awal dimulai dengan menapaki anak tangga beberapa meter ke atas hingga mencapai sebuah makam yang letaknya ada di gunung tersebut. Hanya ada satu jalan setapak jadi kamu nggak perlu takut nyasar. Sekitar seperempat perjalanan, barulah ada bekas jalur lain yang dapat menghubungkanmu ke jalan mendaki yang berbeda. Waktu itu saya ngikut aja sama 'si guide' yang sudah melanglangbuana menakklukan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Kekekeke...



Akhirnya, belum sampai tujuan saya sudah ngos-ngosan, sulit mengimbangi langkah kaki para pemuda pengejar jodoh itu. #Ehhh... Emang bener kok, naik gunung ngebut kayak lagi ngejar jodoh aja mereka tuh. Nggak tau apa eike ribet nyincingin rok supaya nggak belibet. Akhirnya, saya lemparlah sendal yang licin ke udara sambil nyuruh mereka naik duluan. Enakkan juga melangkah pelan-pelan sambil menikmati setiap embusan napas. *Alibi

Tepat ketika adzan ashar berkumandang, saya sampai di salah satu bidang rata tempat biasanya para pendaki beristirahat. Terlihat bekas kayu bakar yang masih tersisa. Saya menyerah dan menikmati pemandangan dari sana, sementara mereka bertiga masih lanjut naik hingga puncak tertinggi.


Hamparan pemandangan dari ketinggian memang mengaggumkan. Beda dengan hanya melihat video atau foto orang-orang. Merasakan sendiri jauh lebih indah meski hanya di ketinggian yang beberapa puluh meter ini. Apalagi mendengar muadzin melantunkan shalawat dan puji-pujian terhadap Allah SWT, menggema di setiap penjuru dengan panorama mentari yang mulai mengarah ke singgasananya. Semua itu mengingatkan saya akan kuasa Sang Ilahi yang tiada tandinganya. Indah... Semoga akan ada kesempatan lain untuk menikmati pemandangan dari ketinggian seperti ini, meski saya juga nggak benar-benar yakin dapat mencapainya.



3 comments:

  1. Apalagi saya mba, ngos-ngosan banget kalau diajak hiking. Padahal pemandangannya sungguh menakjubkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Sama... Pemandangannya keren, tp butuh perjuangan buat mencapainya.

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools