Pesona Sunset di Wisata Gunung Budheg Tulungagung - Reezumiku

Monday, August 21, 2017

Pesona Sunset di Wisata Gunung Budheg Tulungagung


Gunung Budheg adalah tempat wisata alam Kabupaten Tulungagung yang berada di tengah kota. Iya, gunung ini menjulang tinggi di kelilingi pemukiman warga dan sawah-sawah penduduk. Letaknya yang strategis bisa dijangkau dengan mudah. Apalagi sekarang akses pendakian juga semakin dipermudah seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung Gunung Budheg.

Ada beberapa jalur pendakian Gunung Budheg yaitu jalur utara dan barat. Biasanya pengunjung banyak yang memilih jalur utama yaitu di barat karena aksesnya yang lebih mudah. Wisatawan datang pagi-pagi sekali sebelum subuh untuk mengejar sunrise, bahkan ada yang bermalam di puncaknya. Namun, pesona Gunung Budheg yang tak kalah indah adalah waktu sore hari ketika mentari mulai merapat ke singgasananya. Cahaya orange kemerahan dapat menyihir setiap mata yang memandang apalagi menikmatinya dari atas Gunung Budheg yang melekat erat dengan sejarah Tulungagung.

Gunung Budheg sangat tersohor dengan legenda yang dipercaya masyarakat Tulungagung. Bercerita pada masa lampau, terdapat seorang pemuda bernama Joko Budheg yang merupakan rakyat biasa. Ia menyukai seorang gadis ningrat bernama Roro Kembang Sore.

Roro Kembang Sore tidak serta merta menerima kesungguhan hati Joko Budhek. Gadis itu mengajukan syarat bagi Joko Budheg yang ingin mempersuntingnya. Pemuda itu harus bertapa di sebuah bukit selama 40 hari 40 malam dengan menutup kepala dengan cikrak (alat untuk membuang sampah) sambil menghadap ke laut selatan.

Ketika itu rasa cinta mulai tumbuh di hati Roro Kembang Sore. Ia merasa kasihan melihat keadaan Joko Budheg yang sedang bertapa. Suatu waktu ia berusaha memanggil Joko Budheg dan membangunkannya dari pertapaan. Namun Joko Budheg tidak beranjak.

Keluarlah kata-kata seruan dari Roro Kembang Sore, “Ditangekne kok mung jegideg wae, koyo watu.” Bahasa Jawa Tulungagungan yang berarti: Dibangunkan kok tidak bangun-bangun, kayak batu).

Seperti sebuah mantra, Kalimat Roro Kembang Sore pun menjadi kenyataan. Joko Budheg berubah menjadi batu. Sejak saat itu, Roro Kembang Sore yang merasa sangat menyesal berjanji tidak akan menikah dengan siapapun. Ia akhirnya meninggal di kediamannya yang saat ini dikenal sebagai Gunung Bolo.

Itulah legenda yang mewarnai keberadaan Gunung Budheg. Patung seorang pemuda yang diyakini sebagai Joko Budheg yang berubah jadi batu juga terdapat di puncak gunung. Beberapa orang sengaja datang ke tempat wisata ini untuk melihat kebenaran legenda tersebut.


Matahari mulai turun sekitar pukul 17.00 WIB. Bila ingin melihat sunset di puncak, kamu harus berangkat lebih awal. Jarak yang ditempuh tentunya menyesuaikan dengan kecepatan pendakian masing-masing orang.

Meski tidak sampai puncak, kita masih bisa melihat sunset yang indah. Seperti saya yang waktu itu tiba terlalu sore sehingga ketika matahari mulai tenggelam, saya dan teman-teman masih berada di setengah perjalanan. Kami pun memutuskan berhenti dan melihat sunset dari sana saja. Indah bukan???
Dari ketinggian tersebut, kamu juga bisa menyaksikan kota Tulungagung yang kemerlip menjelang malam hari. Jalan-jalan besar juga tampak rapi dari ketinggian. Di sisi selatan banyak area persawahan dan ladang. Sementara itu, di Gunung Budheg sendiri juga terdapat spot foto menarik seperti gardu pandang, tulisan Gunung Budheg yang menyala dalam gelap, dan background kota Tulungagung yang indah.

Saya tidak akan banyak menjelaskan tentang arah menuju lokasi karena sekarang sudah ada Google Map yang sangat bisa diandalkan. Beberapa acuan yang bisa dijadikan petunjuk adalah sebagai berikut:

Dari stasiun / terminal Tulungagung, carilah arah menuju Taman Aloon-Aloon, perempatan TT, atau perempatan Tamanan. Jika sudah menemukan salah satu dari tiga tempat tersebut, kamu hanya perlu menuju ke selatan hingga masuk kecamatan Boyolangu. Ikuti arah ke selatan hingga melewati pom bensin Beji – pasar Boyolangi – hingga menemukan pom bensin lagi di sebelah kanan jalan. Dari pom bensin kedua tersebut, tetap lurus ke selatan sekitar 50 meter. Di sebuah perempatan terdapat tulisan Wisata Gunung Budheg. Dari sana kamu tinggal mengikuti petunjuknya saja.

Terdapat tempat istirahat dan pos istirahat yang bisa digunakan untuk berteduh selama pendakian. Selain itu, terdapat beberapa area dengan koleksi binatang yang dapat menjadi hiburan tersendiri. Area parkir yang dikelola oleh penduduk setempat juga sangat banyak. Selain itu terdapat beberapa warung dan penjaja makanan di sekitar tempat parkir. Untuk tempat ibadah, kamu bisa menggunakan masjid atau mushola di desa tersebut. Satu masjid besar dapat kamu jumpai saat mendekati tempat wisata Gunung Budheg.
Alamat ® Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 
Akses ® sepeda motor, mobil
Harga tiket masuk ® 5000 per orang
Harga parkir kendaraan ® 3000 per motor
Wisata tujuan ® Situs Guo Tritis, Tumpak Kendit, Patung Joko Budheg

.
.
.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools