Gadis Perahu dari Kampung yang Terapung [CERPEN] - Reezumiku

Friday, January 26, 2018

Gadis Perahu dari Kampung yang Terapung [CERPEN]


Yang benar saja! Matahari belum menampakkan sorotnya dan ikan-ikan belum terbangun dari tidur. Bahkan, jangkar juga belum dilemparkan sejak hengkang dari dermaga.
“Police! police!” Teriakan kacau dari seluruh awak kapal yang lebih banyak berkulit cokelat namun berbincang dengan bahasa asal mereka. Hanya aku dan tiga orang lain yang berwajah lokal.
Sama terkejutnya denganku, mereka berhamburan tanpa diperintah, mengemasi barang-barang dan memasukkan bahan peledak ke dalam kotak kayu. Orang paruh baya itu menyeret kotak-kotak dengan otot kekarnya ke geladak bawah. Ada sebuah celah kecil disana, tempat tersembunyi yang paling aman.
“Ah sial!!! Sepertinya aku akan mencium aroma pengap lagi,” umpatku sendiri pada angin laut yang semakin dingin menusuk tulang.
Cepat atau lambat polisi laut pasti akan segera mengobrak-abrik kapal asing ini. Bukan hanya tidak dilengkapi surat-surat, tapi peristiwa ini akan menjadi headline berita dengan ditemukannya bom-bom pembunuh ikan itu. Meski berdaya ledak kecil, tetap saja itu bom. Dan aku…akan kembali terkurung di balik jeruji besi.
Tiba-tiba, seseorang menarik lenganku. Dia Petrus, lelaki yang berbincang denganku kemarin sore di dermaga. Ia pendatang sama sepertiku, namun ia telah lama tinggal di Kaledupa. Sedangkan ini adalah kali pertama aku mengarungi perairan Wakatobi. Itupun atas saran kawan satu sel-ku dulu untuk bergabung dengan kapal Morio, penyelundup ikan illegal yang tersoror di kalangan pemasok ikan-ikan curian.
“Pakai ini dan bersembunyilah di dalam air,” ucapnya berbisik sambil dengan paksa memakaikan tabung oksigen ke punggungku. “Besok, akan ada perahu yang melintas. Katakan padanya bahwa kau temanku.”
“Apa? Bagaimana denganmu?” tanyaku berbisik.
“Aku akan tetap di sini,” jawab petrus.
Aku terkejut sekaligus khawatir. “Tidak! Lebih baik kamu yang pergi. Aku sudah terbiasa di penjara. jadi bukan masalah kalau harus ke sana lagi.”
“Tidak ada waktu lagi. cepat pergi!” pintanya.
“Tapi…”
Petrus memotong kalimatku. “Inilah saatnya aku berhenti melawan kehendak laut.”
Petrus menautkan jari-jarinya padaku kemudian mengepalkan telapak itu dan memberikan pukulan ringan di dada, sebuah salam persahabatan yang kemarin ia ajarkan. Lalu dengan cepat ia mendorongku keluar dari kapal. Lagi-lagi sial. Memang tidak akan kembali ke penjara, tapi aku bisa mati membeku dalam air. Sementara itu, Petrus tampak pasrah menatapku.
***
Remis-remis kecil merangkak menjauhi pantai sementara ombak terus menerjang dan mengikis tepian karang. Gemuruhnya tak kalah keras dengan tawa bocah-bocah pesisir bertelanjang kaki yang asik bermain air. Beberapa dari mereka menggoda anak penyu lalu berbicara dalam bahasa imaji mereka.
Entah bagaimana laut membawaku ke sini dan berakhir menjadi seorang buruh angkut ikan. Setidaknya laut masih berbelas kasih dan tak membiarkanku mati ditelannya saat itu. Kusebut itu sebagai kehendak lautan, yang tak mengenal mana yang salah dan mana yang benar.
“Hei anak muda!” lelaki tua itu memanggilku. Bagaimana dia masih menyebutku anak muda dengan kumis tebal dan tubuh tinggiku ini. Padahal harusnya aku sudah 31 tahun, atau mungkin lebih. Aku tak ingat berapa lama waktuku terbuang di penjara. “Cepat kau ikat kapal ini dan bawa ikan-ikan ke pasar,” perintahnya lalu melenggang pergi ke warung tak jauh dari pantai. Ia pasti akan menghabiskan beberapa rupiah untuk makan nasi dan tongkol goreng sambil terus mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang gadis melompat ke atas kanal-kanal yang berjajar. Gadis  berkulit legam itu berhenti di kapal kecil lalu mengayuhnya. Aku tak begitu yakin, namun tak bisa kubiarkan rasa penasaran ini hanya semakin mengakar di dalam hati.
Aku sudah pernah merasakan omelan bahkan cacian laki-laki tua itu ketika mencoba mengikuti gadis perahu itu pertama kali. Aku meninggalkan ikan-ikan begitu saja hingga di curio rang dan malah mengitu seorang gadis berkulit legam. Jadi bukan hal menakutkan lagi kalau harus mendengarkan makiannya sekali lagi.
***
Aku tak tau kemana gadis itu akan menyeretku di atas ombang ambing ombak ini. Semakin jauh saja dan tak ada tanda-tanda untuknya berhenti. Sesungguhnya aku tak benar-benar bisa menaiki lepa-lepa[1]. Aku juga tak yakin apakah harus terus mengikutinya yang semakin menjauh dari daratan.
Hei!!! teriakku dalam hati. Apa yang dia akan lakukan? “Hei... hei… jangan!!!” Akhirnya kalimat itu meluncur spontan dari mulutku. Namun ia sudah terlanjur menenggelamkan dirinya ke dalam air. Air laut siang ini memang hangat. Mentari memanggang sempurna dan siapapun pasti tergoda untuk menyelaminya.
Dia melompat dari perahu. Ya, hanya dengan kain yang melekat ditubuhnya. Bukan itu masalahnya, mungkin dia masih bisa berenang tanpa oksigen atau dengan kaki telanjang. Tapi… tiga menit, empat menit, lima menit, tujuh menit, sepuluh menit… sudah terlalu lama ia berada di dalam air.
“Apakah sesuatu terjadi?” gumamku khawatir.
Aku menarik napas panjang, mengambil beberapa udara melalui mulut dan byur… Beberapa teguk air asin melanyahkan tenggorokkanku. Dingin. Dan…dimana dia?
***
Bau anyir menyeruak melalui lubang hidung. Pandanganku mulai nampak jelas, lalu hampir saja membuatku melompat kaget. Siapa mereka? Kenapa mereka mengerubungiku seperti ini? Apa yang terjadi padaku? Ah, tidak. Yang benar-benar ingin kutahu adalah…siapa mereka?
“Dia bangun. Dia bangun.”
“Siapa kalian?” Ya, aku ingin tau siapa orang-orang aneh ini, yang memakai bedak tebal yang lebih mirip seperti masker wajah.[2]
Kemudian kerumunan itu pergi setelah merapalkan mantra yang tak kumengerti artinya. Entah itu jawaban atas pertanyaanku tadi dalam bahasa mereka atau bukan. Lalu, seseorang datang. Gadis dengan rambut sebahu itu kini tepat di depanku. Setidaknya dia tidak memakai masker seperti orang-orang tadi. Ah, aku ingat bahwa tadi aku sedang mengikuti gadis ini.
“Kamu baik-baik saja.” Kalimat datar yang ambigu antara sebuah pertanyaan atau pemberitahuan.
Ia bangkit dan berjalan menuju pintu kayu. Aku menyelaraskan langkah di belakangnya. Mentari di luar mulai turun dari tahtanya, namun itu justru semakin menampakkan keindahan. Kecipak air laut yang menghempas tiang-tiang pancang beradu dengan desis tiupan angin.
“Kamu tinggal di laut?” tanyaku.
Benar-benar di atas lautan dan jauh dari darat tempat sewajarnya peradaban. Aku terperangah ketika menginjak papan kayu yang berjajar ditopang tiang-tiang penyangga yang berdiri di atas air.
“Kami Gipsy laut, mungkin kamu lebih mengenal nama itu. Panamamie ma di lao,[3]” jawabnya singkat diakhiri dengan senyum tipis. Hampir membuatku terkejut, ternyata gadis kaku itu juga bisa tersenyum.
Ia terus melangkah pada jajaran papan kayu yang menjadi jembatan penghubung dari rumah ke rumah. Beberapa bagiannya telah lapuk dan berlumut. Aku berusaha mengatur langkah agar tidak terjerembab ke dalam lubang yang menganga. Sementara itu, kaki kecil gadis perahu itu– begitu aku menyebutnya- lincah melangkah tanpa takut terpeleset lalu jatuh ke air.
Kukira orang yang kukenal itu hanya mengarang cerita yang entah dia ambil dari buku atau hasil imajinasinya sendiri. Tapi mereka benar-benar ada - suku Bajo. Gipsy laut yang dulunya hidup berpindah-pindah dari pantai ke pantai, dari pulau ke pulau, dan tinggal di atas bido[4]. Tapi, sejak munculnya peraturan untuk tinggal menetap, masyarakat suku Bajo mulai membangun pemukiman di atas bongkahan karang maupun air di kawasan pantai.
Beberapa juga sudah beralih tinggal di darat pada pesisir pantai. Mereka itu yang menganut konsep ‘piddi tikkolo’na lamong ‘nggai makale le goya’ berarti kehidupannya tidak dapat dipisahkan dengan gemuruh ombak. Selama gemuruh ombak masih terdengar, disanalah mereka bisa tinggal, meskipun sudah di darat.
Tetapi, gadis itu dan orang-orang di kampungnya masih tertahan oleh jangkar kebudayaan. Perkampungan ini benar-benar di tengah laut dengan gelombang yang tenang. Hanya dengan perahu satu-satunya cara menjangkau darat. Itupun dua kilometer jauhnya dari daratan terdekat saat aku bertanya pada gadis tersebut.
Ia mengajakku menaiki koli-koli[5] menuju tengah laut tak jauh dari pemukiman tadi. Memang benar kalau aku menjulukinya gadis perahu. Dengan lengan pendek dan tubuh kecil itu ia punya  otot-otot yang kuat. Gadis itu juga menolak bantuanku. Aku hanya diam sepanjang perjalanan.
 “Kita ke laut. memberi sesaji pada Pamakitalo.” Sepertinya gadis itu tau bahwa aku telah menunggu penjelasan ini sejak tadi. “Leluhur kami yang bermukim di laut,” lanjutnya.
“Tapi kenapa hanya kita yang ada di sini? Maksudku, kenapa hanya kamu yang memberi sesaji pada leluhurmu itu? Apa yang lain tidak melakukannya?”
Gadis itu menutup mata, seperti tengah berdoa. Keheningan cukup lama mencengkeram sukma dalam khusuk doa’nya. Lalu ia menghanyutkan sesaji dan mengabaikan pertanyaanku. Benar-benar mirip dengan seseorang yang kukenal.
Tiba-tiba, ia tersenyum menengadahkan wajah pada mentari yang sudah bersembunyi namun masih menyisakan semburat di langit. Sinar kemerahan itu menyoroti perkampungan suku Bajo, menampilkan siluet rumah-rumah panggung yang hidup di atas lipatan laut Wakatobi. Eksotisme kehidupan yang terapung, dan laut yang senantiasa mengasuhnya.
“Tu..tunggu!” teriakku cukup keras. Gadis berambut hitam kemerahan itu menoleh heran. “Apa...apa kau akan masuk ke dalam air lagi?” tanyaku gagap.
Dia tersenyum lagi. Entah apa maksud senyuman itu kali ini. Hanya saja, seketika aku menjadi kaku. Ada getaran hebat yang kurasakan muncul dari dalam tubuhku, tepat di dalam dada, pada detak kehidupanku. Ah, Tidak! Aku tak boleh luluh dengan perasaan tak jelas ini. Bukan itu tujuanku mengikutinya. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, bukan untuk menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupku.
“Jangan khawatir, aku tidak akan tenggelam. Aku bisa bertahan di dalam air lebih dari yang kau kira. Kau yang harus berhati-hati. Jangan sampai menelan banyak air lagi.”
Ya, aku memang hampir tenggelam karena mengikutinya. Cipratan air itu kini menggodaku. Kulepas kaos putih oblong yang entah milik siapa dan baru kusadari sejak tadi telah melekat ditubuhku. Sekali mengambil napas panjang dan…byur. Kusibak titik-titik air di wajah dengan telapak tangan. Tiga detik kemudian kuputuskan untuk ikut menyelam.
Sungguh, seperti yang ada pada banner-banner di pusat kota Buton waktu aku tinggal di sana. Tempat ini memiliki ratusan spesies ikan dan karang. Surga bawah laut yang sangat cantik. Sisik-sisik licin beberapa kali menyentuh kulitku. Kini, aku yang berani menjulurkan telapak tangan dan merasakan struktur flora laut yang meliuk-liuk mengikuti arah tekanan air.
Aku mulai sesak, kusembulkan kembali kepalaku ke permukaan dan segera menyerap oksigen sebanyak yang aku butuhkan. Gadis itu muncul beberapa detik setelahku. Kurentangkan kaki dan tangan, melemaskan seluruh otot tubuh agar sempurna mengapung di atas air.
“Boleh aku bertanya?” kuberanikan diri memulai percakapan kali ini. Gadis itu hanya diam. Kuartikan diamnya sebagai tanda setuju. “Tadi aku lihat… apa yang terjadi pada karang-karang itu?” tanyaku ingin tau kenapa dasar laut dan beberapa tumbuhan lain itu berantakan dan hancur.
Lamat-lamat aku bisa mendengar suara gadis yang juga mengapung di sebelahku. “Setan, iblis, aku menyebutnya seperti itu, orang yang tak pernah menghargai kehidupan yang diberikan oleh laut. Dia datang hanya untuk merusak dan mengambil sebanyak-banyaknya,” jawabnya penuh kebencian.
Sungguh, itu membuat seluruh bulu kudukku merinding. Akukah salah satu dari iblis atau setan itu?! Orang seperti diriku yang tak tau terimakasih dan menghancurkan keindahan ini - tempat yang menjadi pondasi kehidupan mereka. Aku tak kuasa untuk menatap gadis itu sekarang. Sungguh tak punya malu jika aku masih melakukannya.
“Dia hanya singgah, menghadirkan tawa, memberikan cinta, tapi dia juga pergi mengambil segala-galanya tanpa tersisa. Meninggalkan kekecewaan dan rasa sakit.” Ia menatap langit sambil tetap menggerakkan kakinya agar mengapung di permukaan. kulihat pula matanya yang lembab bercampur air. “Aku membencinya. Aku benci terlalu mencintainya. Aku benci tak bisa membencinya.”
Dia siapa? Aku tak berani bertanya.
***
“Iya, aku mendengar sendiri dari seorang nelayan dari Buton. Dia benar-benar di penjara sekarang. Suaminya itu memang setan. Bukan hanya menghianati satu orang, dia telah melukai semua orang di desa ini.”
“Tapi kudengar di hanyut terkena badai,” sahut yang lainnya.
“Itulah akibatnya melanggar pamali[6]. Siapa yang suruh dia menikah dengan selain suku Bajo dan tetap menentang pamali untuk tinggal di luar kampung. Sekarang, kena akibatnya. Orang itu pantas dihukum.”
Beberapa orang yang sedang menyuluh[7] bercakap pelan, namun masih terdengar olehku yang masih terjaga. Cahaya lenteranya menembus dinding kayu. Memang tak ada aliran listrik di tempat ini. Hanya beberapa nyala temaram lampu dari mesin genset yang memberi cukup penerangan.
“Merusak laut sama saja menantang semua orang-orang Bajo.”
Lirih namun aku bisa mendengar suara isak tangis dari ruang sebelah. Gadis itu menangis, meringkuk dibalik selimutnya. Aku bisa mengerti keadaan ini sekarang. Ya, aku kini paham apa yang terjadi padanya, juga kesalahan yang telah kulakukan pada laut. Lelaki itu benar, Petrus benar, aku akan paham ketika telah mengenal mereka. Gadis perahu itu telah memukul hatiku dengan kuat, hingga tak sanggup mengangkat kepalaku lagi.
***
10 Hari yang lalu…
“Aku Petrus. Kau?”
“Tio. Antio,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya.
Antillo[8]? Telur?”
“Bukan! Antio. Panggil saja Tio.”
“Kenapa kau kembali datang ke tempat seperti ini?”
“Entahlah! Kurasa aku tak punya tempat lain untuk pergi.”
“Sebaiknya kau tidak ikut berlayar nanti malam. Laut mulai marah. Tidak sekang, memang tidak sekarang, tapi aku bisa merasakannya. Tak seharusnya kita melawan lautan. Cepat atau lambat, laut yang akan mengamuk pada kita. Dan seringkali ia tak mengenali mana yang salah atau mana yang benar. Harus ada yang dikorbankan untuk melindungi mereka yang tidak bersalah.”
“Yang tidak bersalah?” tanyaku menyelidik.
“Ya, mereka yang menjaga laut, mereka yang hidup di laut dan mereka yang bersandar pada laut.” Petrus memejamkan matanya sebentar, seperti tengah berdoa dalam hatinya. “Kau akan mengerti ketika mengenal mereka, Gipsy laut.”
Angin, laut, dan ombak terasa seperti ikut berbincang.
“Hei Antio, apa kau sadar kalau yang kita lakukan ini salah?”
“Ya, tentu ini salah,” jawabku mantap. “Tapi aku tak punya pilihan. Aku juga tak takut kalau harus masuk penjara lagi. Toh, di penjara aku tak perlu berpikir apa yang harus aku lakukan atau akan makan apa aku hari ini. Semua sudah diatur dan aku hanya perlu bergerak.”
“Tidak, bukan salah dalam hukum atau aturan negara seperti itu.”
Keningku berkerut. Benar-benar semakin tak paham dengan apa yang dikatakan lelaki ini.
“Kesalahan yang kita lakukan pada laut – pada alam. Istriku yang mengajarkan semuanya. Dia yang membuatku tak berani menatapnya lagi. Bersama dengannya membuatku semakin merasa bersalah. Dan karena itu juga, aku akan mengakhiri semuanya hari ini.”
***END***




[1] perahu bercadik yang digunakan untuk menangkap ikan dan alat transportasi di Wakatobi
[2] Orang Bajo menggunakan sun block tradisional berupa bedak beras yang ditumbuk dengan kunyit. Dioleskan pada wajah dan tangan untuk melindungi kulit dari terik matahari.
[3] Laut adalah sumber kehidupan.
[4] Perahu yang dijadikan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Bajo jaman dulu
[5] Perahu kecil/sampan
[6] larangan
[7] Teknik menangkap ikan dengan sapah, tombak khas masyarakat Bajo
[8] Bahasa Bajo yang berarti “telur”

Picture from: https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/30/16/33/girls-2554856_960_720.jpg

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools