My Time is "Me Time' ~ Part 1 - Reezumiku

Friday, January 26, 2018

My Time is "Me Time' ~ Part 1


Gadis cantik berambut panjang itu memancarkan aura bintang dengan mengenakan gaun malam bermotif bunga krisan kuning. Kakinya yang panjang tanpa sehelai bulu melenggang dengan anggun di atas calt walk. Gigi gisulnya menarik perhatian ratusan orang didepannya ketika ia tersenyum lebar. Diujung panggung ia berhenti, melambaikan tangan lalu menampilkan beberapa close up seolah girl band korea yang di sorot paparazzi. Puas dengan aksinya, gadis itu berbalik. Tiba-tiba tubuhnya bergoyang pelan, ia kehilangan keseimbangan dan…..
“Arrrkkk…” Amami tersungkur, kepalanya terbentur porselin putih di kamarnya. “Aow…” rintihnya lagi.
Spontan ia langsung bangun dan mengelus bagian kanan kepala yang dirasanya sakit dan sedikit pusing. Jadi semua itu hanya mimpi.
Sorot mentari pagi menembus jendela kaca apartemen di pusat kota Jakarta itu. Amami merasakan aroma pagi yang berbeda. Matanya langsung tertuju pada beker bulat yang masih ditempatnya. 08.55.
“What???”
Amami panik dan berpikir keras bagaimana ia bisa tertidur begitu lama. Marah. Kesal. Wajahnya tampak kecewa dan menyesal. Padahal tiap pukul 05. 45 tepat ia sudah menyeruput kopi panas di meja kerja sambil menatap layar laptopnya.
“Amira…!!!” Sadar dari amnesia kambuhannya, Amami langsung memanggil-manggil saudaranya.
Ia segera menuju arah suara air kran yang mengucur deras di kamar mandi. Menggema pula lagu Westlife yang dinyanyikan dengan nada tak jelas, fals dan lebih mirip klakson truk gandeng yang memekakan telinga.. “Amira… Amira… Buka pintunya!!! Kenapa kamu matikan alarm kakak?! Hey!!! Cepat keluar! Kakak sudah terlambat,” teriak Amami lagi.
Amami tak mau berdebat saat ini. Sekarang bukanlah saatnya memberi pelajaran Amira yang malah asyik mandi. Gadis itu segera pergi setelah memasukkan notebook dan alat tulisnya ke dalam tas. Setidaknya pagi ini ia tak mengumpat pada sopir taksi karena macet.
***
Dengan segelas plastik kopi panas yang baru buatnya, Amami berlari mengejar lift yang hampir tertutup pintunya. “Tunggu!”
Ya, sebagian besar orang akan mengatakan hidup yang membosankan, rutinitas yang membosankan, waktu yang membosankan dan segala macam bentuk kebosanan yang lain. Tapi bagi Amami, apa yang dia lalukan adalah hal menyenangkan. Sesuatu yang membanggakan dalam hidup dengan tak membuang percuma sedetikpun waktu yang diberikan Tuhan padanya.
“Hey, kemana saja kau ini? Hasan mencarimu dari tadi?”  sapa Rina yang sudah ada di dalam lift lebih dulu.
“Ceritanya terlalu panjang,” jawab Amami. Kedua tangannya sibuk membawa jurnal, tumpukan dokumen lainnya dan segelas kopi, jadi ia memberi isyarat pada Rina untuk menekan tombol lift.
“Hm….” desis Rina, layoter majalah fashion di kantornya. “Baiklah kalau begitu ceritakan kapan-kapan saja. Oh iya, kamu masih ingat Friko kan?”
Amami menaikkan alis tanda tak mengerti, ia benar-benar tak ingat nama yang di sebutkan rekannya tersebut.
“Itu lho, sepupuku yang aku kenalkan padamu seminggu yang lalu. Dia ingin mengajakmu makan siang hari ini. Kenapa kamu nggak mengangkat teleponnya, sih?”
Amami membetulkan letak dokumennya yang hampir jatuh. “Rin, dengar ya,” sambil keluar dari lift. “Aku sudah kehilangan hampir 4  jam waktuku tadi pagi. Banyak yang harus aku kerjakan dan, maaf, aku tidak bisa pergi dengan sepupumu itu. Katakan padanya, Friko, aku sangat menyesal.”
“Tapi aku sudah bilang padanya…” Rina paham betul sifat Amami yang dikenalnya ketika masuk di kantor penerbitan majalah fashion ini. Dan sekarang bukan saatnya mengganggu dia dengan urusan kencan. rina pun kembali ke mejanya tanpa mengejar Amami yang sudah lebih dulu duduk di kursinya.
***
Harusnya Amami sudah duduk di kursi paling sudut itu tepat jam 07.00, atau setidaknya bisa menyelesaikan dua buah artikel dan satu tulisan eksklusif hasil wawancaranya dengan seorang perancang busana terkenal kemarin. Tapi jadwalnya hari ini berantakan.
“Ami!” panggil Hasan yang sudah mencari-carinya sejak pagi.
“Hay, Hasan. Untung saja kamu di sini. Aku baru saja akan ke ruanganmu. Mana foto-foto di acara peragaan busana kemarin? Aku akan menulis untuk edisi selanjutnya,” pintanya sambil mengetik di komputenya. Sesekali ia melirik Hasan ketika berbicara.
“Deadline-nya masih lima hari lagi, Amami. Jangan mulai lagi deh. Aku mencarimu bukan untuk itu, tapi…”
Stop!” potongnya. “Kamu yang jangan mulai lagi. You know me so well, right?! Kalau bisa diselesaikan sekarang kenapa harus menunda. Setiap menit, bahkan setiap detik itu sangat berharga.”
“…dan sangat merugi kalau kita menyia-yiakannya,” ucap mereka bersamaan.
Hasan sudah tau betul prinsip hidup teman kecilnya itu. Sejak SD bertetangga dekat hingga SMP, lalu mereka dipertemukan kembali dalam pekerjaan yang sama di Jakarta. Keduanya saling mengerti satu sama lain. Dan kalimat itulah yang selalu Amami ucapkan ketika mereka selalu bertengkar tengtang waktu seperti sekarang.
So, mana fotonya?” Amami menengadahkan tangan meminta file foto liputannya kemarin.
“Ok miss on time. Aku nggak peduli apa katamu, aku akan memberikan file itu nanti siang. Kita lunch diluar hari ini.” Hasan memaksa dengan nada serius nan santai.
Amami Azalean atau yang lebih dikenal dengan nama pena Aza, semakin meradang. satu-satunya orang yang bisa mengalahkan prinsipnya ya cuma si fotografer sok cool dan pemaksa bernama Hasan. Meskipun Amami juga mengakui kehebatan Hasan dalam urusan fotografi, namun ia membenci sahabatnya itu ketika mengganggu dan membuang percuma waktunya.
***
Mereka tiba di sebuah restoran cepat saji. Letaknya tak jauh dari gedung-gedung perkantoran sehingga membuat tempat ini ramai apalagi pada saat istirahan makan siang. Amami segera mengeluarkan notebook ketika telah mendapatkan tempat di sudut ruangan, dekat dengan kaca.
“Kenapa kita tidak ke café biasanya? Disana lebih tenang dan nyaman. Aku tidak akan bisa konsentrasi di sini,” ujar Amami, sambil menggerak-gerakkan pointer dilayarnya. “Orang-orang itu seperti politikus aja, bicara keras tanpa titik koma, dan apa yang mereka bicarakan sama sekali nggak ada gunanya,” tambah gadis itu yang mulai menggerutu tak jelas.
“Bukankan kamu juga melakukan hal yang sama barusan?!” sindir Hasan.
“Apa maksudmu?” Amami yang tak pernah mau kalah segera mencari pembelaan. “Setidaknya omonganku itu berarti, bukan omong kosong para caleg dengan janji-janji uapnya,” sambil menekan enter pada notebooknya. “Oh iya, mana fotonya?”
Hasan mengacuhkan permintaan Amami, ia malah mengangkat tangannya hingga seorang pelayan datang menghampiri. Dengan nada rendah dan ramah pelayan itu menawarkan menu makanan dan siap mencatat pesanan.
“Dua porsi nasi ayam bakar, yang satu pakai sambal agak banyak,” pesan Hasan yang sekaligus memesankan menu favorit Amami yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu.
“Baguslah. Itu mempersingkat 0,99 detik waktuku.”
Hasan menutup notebook Amami dengan paksa, lalu meletakkan di kursi kosong sebelahnya. “Sekarang waktunya makan siang, bukan bekerja. No laptop! No photo! No writing! Ok?!!
“San, aku nggak butuh leluconmu saat ini. Aku harus dan sedang ingin menyelesaikannya. Kamu tau kan kalau makan itu adalah sebuah pekerjaan di Cina. Orang Cina bisa menyelesaikan apapun saat makan siang.Dan aku juga sudah memasukkan prinsip itu dalam kamusku. Aku bisa menghemat seperempat jam waktu saat makan siang untuk dua halaman berita.”
“Yups, aku tau betul kamu akan seperti ini. Tapi kamu juga harus menghemat lima belas menitmu itu untuk mendinginkan otak. Kamu pikir otakmu itu mesin yang nggak punya rasa lelah?! Otak perlu istirahat supaya dapat ide yang lebih fresh.” hasan menatap serius. “Tidak boleh ada bantahan lagi. Now, it’s time to lunch. Ok?!”
Amami mengangguk ragu, sedikit jengkel, dan kesal. Hanya pada Hasan ia bisa mengalahkan egonya. Tak pernah ia mau berhenti melakulan sesuatu selain pada Hasan. Itu karena ia sangat menghargai laki-laki itu sebagai sahabat yang sangat berjasa untuknya.
Pesanan telah terhidang di meja. Amami tak segera menyantapnya namun ia mengamati satu-persatu tiap sajian di depannya seperti seorang detektif yang menyelidiki sebuah kasus. “Kenapa sambal itu ada di depanmu? Bukannya itu untukku?” tanyanya.
“Kata siapa ini milikmu. Makanan untukmu adalah itu ya yang ada di depanmu itu,” jawab Hasan puas telah mengerjai gadis itu.
“Tapi aku tidak bisa makan tanpa sambal yang pedas.”
“Itu karena kamu tak pernah mencobanya. Sudah sekarang kamu makan saja. Bukannya akhir-akhir ini perutmu sering sakit setelah makan pedas.”
Amami bergumam jengkel sambil menusukkan garpu dengan terpaksa lalu memasukkannya ke mulut dengan sangat pelan pula.
“Oh iya, apa acaramu nanti malam?” tanya Hasan.
“Entahlah. Mungkin di rumah, adikku datang dan menginap dari kemarin. Gara-gara dia juga aku jadi terlambat hari ini.” Sesendok ayam bakar masuk kemulutnya, ia kunyah pelan lalu menelannya. “Waw… This is delicious. Bagaimana bisa rasanya seenak ini.”
“Sudah aku bilang kamu harus mencobanya. Ayam bakar di sini berbeda karena dibumbui dan dibakar dengan cara tradisional. Kalau kamu makan dengan sambal, nggak akan merasakan kelezatan dagingnya yangseperti itu.”
“Oke, aku akui kali ini kata-katamu benar. Hanya tentang makanan ini. Bukan masalah prinsip waktuku ya?! Aku berikan pengecualian untuk makan siang kali ini.”
“Hm… Berari kamu tidak ada acara nanti malam? Kalau begitu kita makan di luar, ya?! kamu bisa mengajak adikmu kalau mau.”
“Kamu ini kenapa sih, hari ini begitu banyak mengaturku, memaksa begini, begitu. Hey, aku tau aku ini sahabatmu satu-satunya dan hanya aku yang mau pergi ke luar denganmu. Bukan bermaksud menyinggung tapi kenyataannya aku tak pernah melihatmu pergi dengan wanita lain kecuali aku, itu faktanya kan?! Tapi itu bukan berarti aku tak punya acara. Banyak yang harus aku selesaikan hari ini.” Amami istirahat sejenak dengan memalingkan pandangan keluar kaca restoran.

***
“Iya bu, Nanti Amira sampaikan.” Amira menutup telepon ketika Amami masuk ke rumah.
“Telepon dari siapa dek?” Sekesal apapun, Amami tak bisa marah pada adiknya lebih dari sehari. Terlahir di weton yang sama membuat mereka sama-sama mewarisi watak keras kepala, gigih, namun juga perasa yang memiliki kelembutan hati.
“Dari ibu.” Amira mendekati kakaknya yang sedang melucuti aksesoris ditubuhnya. “Kak,” panggilnya ragu.
“Hm…?” jawab Amami sambil menatap cermin, menghapus make up yang seharian menempel di wajahnya.
“Ibu tanya, kapan kakak pulang…” Amira berhenti sejenak mengambil napas. “Dan mengenalkan kekasih kakak pada Ibu,” lanjutnya.
Amami mematung seketika. Tubuhnya seolah diestrum listrik bertegangan tinggi dan ia tak mampu bergerak sedikitpun. Pertanyaan itu meluncur lagi dari ibunya, meskipun hanya lewat perantara adiknya.
“Iya,” jawab Amami asal. Sampai saat ini ia memang belum memiliki jawaban yang pasti.

“Iya, kapan kak?” Amira menuntut penjelasan.
“Iya. Nanti.” Amami mulai kesal.
“Kak, kakak ingat nggak ini hari apa? Ini hari ulang tahun kakak, yang ke 30 kak. Sampai kapan kakak akan sok mandiri, sok kuat, sok tegar tanpa seorang lelaki di samping kakak?!”
Setruman itu kembali mengalir, namun kali ini menembus sampai ke tulang dan membuatnya retak. Pernyataan sejenis ini selalu dikatakan teman-temannya, saudara-saudaranya, ibunya, dan kini Amira yang sedari dulu tidak pernah menyinggungnya.
Amami tak habis pikir kenapa semua orang begitu sibuk mengurus hidupnya, mencarikan jodoh untuknya, mengkhawatirkan status jomblonya. Gadis itu merasa nyaman dengan apa yang dia lakukan sekarang.
“Kakak sudah pernah bilang kan kalau kakak nggak apa-apa. Kamu sendiri lihat kan?! Tanpa siapapun kakak bisa sukses? Kakak bisa membeli rumah di Malang, membiayai kuliahmu, kakak bisa melalukannya sendiri,” jawab Amami yang mulai meninggikan suaranya.
Dua saudara itu mulai merasakan kecanggungan dalam hening. Mereka diam beberapa lama, hingga akhirnya Amira bangkit dari duduknya lalu memakai jaket dan bersiap keluar. Sedangkan Amami tidak bergeming.
Sebelum membuka pintu, Amira berhenti sejenak. Matanya berembun, berusa menahan air mata yang memaksa keluar. Ia ragu untuk berucap. “Ibnu melamarku sebulan yang lalu. Dan dia masih menunggu. Hanya kakak yang bisa memberi jawaban.” Sambil mengusap air mata yang akhirnya jatuh ke pipi, Amira mengambil napas panjang. “Hanya kakak yang bisa memutuskan, karena Amira menyayangi kakak.”
***
LIHAT PART 2 Di SINI



1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools