#MyRoom4 Melewatkan kesempatan langka daftar CPNS, yakin nggak akan nyesel? - Reezumiku

Thursday, November 15, 2018

#MyRoom4 Melewatkan kesempatan langka daftar CPNS, yakin nggak akan nyesel?



Assalamualaikum...

”Lolos nggak? Tes dimana? Kapan?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terlontar pada saya seharian penuh tanggal akhir Oktober lalu ketika Pengumuman Lolos Seleksi CPNS sudah keluar. Maklum saja, saya bekerja di instansi pemerintah, dimana hanya ada dua jenis status pekerja di sini yaitu pegawai Honorer dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka, mengikuti tes CPNS seolah menjadi kewajiban tak tersurat dalam lingkungan ini.

Ketika rekan-rekan saling berbagi informasi, mulai menanyakan kabar perkembangan, saya hanya duduk diam saja. Bisa dibilang saya adalah satu-satunya pegawai honorer di sini yang tidak terseret euforia Seleksi CPNS tahun 2018.

Ketika berbagai rasa penasaran itu terlontar, saya hanya menjawab singkat, "Saya tidak daftar." Tersungging senyum naif di sudut bibir ketika lawan bicara melongo, tanda mempertanyakan keseriusan jawaban barusan. "Iya, bukan tidak lolos, tapi memang tidak daftar." Lagi, saya tersenyum t    ipis, enggan memberi penjelasan lebih jauh.

Membuka portal SSCN saja cuma sekali. Waktu itu hanya iseng dan coba-coba melihat formasi jurusan yang tersedia. Sekali dan yang terakhir, saya tidak pernah mengunjungi laman tersebut lagi.

Yakin?
Nggak bakal ngesel?

Bukan hal mudah untuk memutuskan tidak daftar CPNS. Apalagi Bapak sangat berharap banyak pada lowongan menjadi pegawai negara tersebut. Pendaftaran CPNS 2018 inilah kesempatan besar yang jarang terjadi, hanya ada ketika menjelang pemilihan presiden saja. Namun, memutuskan untuk tidak mendaftar bukanlah sebuah langkah menyerah. Bukan! Saya hanya memilih. Memilih untuk mengambil jalan yang berbeda.

Seorang guru yang sekarang jadi rekan sekantor mengingatkan saya, agar tidak berkepala besar dengan situasi ini. Jazakillah buat beliau yang berkenan menegur saya dengan cara yang baik tanpa menyinggung hati. Alhamdulillah, saya beruntung bisa diingatkan akan hal tersebut. Untuk membohongi diri saya sendiri agar tidak menyesali pilihan ini, saya bisa saja mencari alibi dengan menyombongkan diri. Naudzubillah...

Kembali ke topik, jadi kenapa saya tidak ikut tes CPNS?
Kenapa?

Cukup lama saya bergelut dengan hati, DAFTAR atau TIDAK. Padahal belum tentu diterima ya, hehe, namun langkah awal akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Jadi saya selalu melihat jauh ke depan agar dapat memotivasi diri untuk menggapai tujuan-setinggi apapun itu.

Dari kebiasaan tersebut, saya mulai membuat daftar positif dan negatifnya, antara daftar CPNS dan tidak daftar. Selain itu, tentu meminta petunjuk dari Allah karena hanya Dia yang tau, mana yang dapat memberi manfaat bagi saya atau malah membawa keburukan.

“Jika memang mendaftar CPNS adalah sebuah pilihan tepat, maka condongkan hati yang lemah ini ke sana. Namun jika tidak daftar adalah jalan terbaik, maka kuatkan hati, ikhlaskan diri ketika mendengar kabar rekan-rekan diterima sebagai PNS.”
Begitu pinta saya dalam doa.

Berdasarkan berbagai usaha dan pertimbangan, ada tiga hal utama yang mendasari saya tidak mengambil langkah daftar seleksi CPNS tahun 2018 ini.

Pertama, saya ingin punya lebih banyak waktu untuk ibadah, tidak lagi mementingkan urusan dunia termasuk pekerjaan. Memang belum tentu lolos apalagi jadi PNS, namun mendaftar seleksi adalah satu langkah menuju ke sana. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana nantinya harus sibuk mengurusi pekerjaan, akan menyita waktu ibadah yang harusnya bisa dimaksimalkan. Kok tau kalau jadi CPNS itu sibuk?  Tentu saja, saya tak mau  berleha-leha apalagi makan gaji buta. Oleh karena itu, perlu rasa tanggungjawab dan dedikasi besar untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin.
Alasan ke dua, saat ini - detik ini saya bercita-cita untuk menjadi seorang istri layaknya Khadijah. Waw, tinggi banget cita-citanya. MasyaAllah, saya selalu dibuat kagum dengan kisah dari ibunda Khadijah, istri pertama Rasulullah yang tak pernah dimadu seumur hidupnya. InsaAllah dengan berharap tinggi, Allah mudahkan dan mengabulkan harapan tersebut. Meski saya tau bahwa tak akan pernah ada yang menyamai sosoknya yang mulia. Namun tidak salah  pula jika menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman berrumah tangga.

Demi mewujudkan harapan tersebut, saya ingin punya lebih banyak waktu di rumah, menyiapka segala sesuatu sebelum suami berangkat kerja dan menyambutnya ketika pulang. Whaahaa… ibu-ibu banget ya. Tapi membayangkan saja sudah bikin bahagia. Kalaupun harus membantu mencari nafkah, saya ingin bekerja di rumah, sesuatu yang bisa saya lakukan tanpa me-nomorduakan urusan rumah tangga. (Amin Ya Allah...Aminin donk!)

Alasan kedua belum dapat terwujud sebab status yang masih single, hohoo. Jadi pertimbangan ketiga saya tidak daftar CPNS adalah... ingin punya waktu lebih banyak untuk keluarga, utamanya orang tua.

Ada satu penyesalan yang tak dapat diputar kembali oleh waktu. Yaitu ketika masa kuliah, saya melalui setiap hari bagai rutinitas yang terus berputar-putar. Maklum saja karena ketika itu saya juga nyambi kerja. Alhasil, setiap hari berangkat pagi pulang malam, sampai rumah hanya untuk tidur saja. Sementara akhir pekan terkuras untuk mengerjakan tugas yang tak dapat saya lakukan dihari-hari biasa layaknya mahasiswa lain.

Kemudian ketika semua kegiatan itu hampir berakhir, saya akan lulus kuliah dan bisa punya banyak waktu luang, lebih tepatnya 10 hari sebelum wisuda, ibu saya meninggal. Kejadian itu tak pernah bisa hilang dari ingatan. Tadinya saya sangat bersemangat, akhirnya bisa mengajak ibu liburan, bisa berbincang-bincang setiap waktu, menghabiskan banyak hari bersamanya. Namun Allah berkehendak lain, takdir yang tak akan pernah bisa berubah sekeras apapun saya meminta.

Namun detik ini, saya masih punya kesempatan, harapan agar penyesalan itu tak terulang lagi. Saya bisa memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan atau mengukir kenangan dengan orang-orang tercinta. Semoga Allah mudahkan tujuan ini, semoga menggapai ridhoNya.

That's All.
Mungkin beberapa orang akan melongo membaca tulisan ini, bahkan bisa saja ada yang prihatin atau menyayangkan alasan tersebut. Saya mengerti, saya paham, saya pernah merasakan hal itu. Bisa dibilang, pemikiran saya saat ini berbanding terbalik hingga 180 derajat dari diri saya di masa lalu yang bercita-cita menjadi wanita karir sukses dengan segudang aktifitas.

Yakin nggak nyesel?
Eh ternyata masih ada yang tanya, seolah saya sedang menolak kupon emas gratis.
“Ndak eman to?
Mumpung masih muda loh!



Alhamdulillah, saya anggap itu adalah bentuk rasa cinta kalian kepada saya. Namun saya yakin bahwa Allah yang menjamin rejeki setiap hamba-Nya, termasuk  saya. Seekor semut saja sudah dijamin setiap makanannya, apalagi kita manusia. Ada Allah yang tak pernah lelah mengabulkan doa. Saya percaya pada Allah dan takdir dari-Nya. Ingat!! Allah yang menjamin rejeki setiap hamba-Nya. InsaAllah

Baca tulisan sebelumnya:

No comments:

Post a Comment

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools