5 Alasan Kenapa Harus Cabut Gigi Impaksi Secepatnya! [PART 2] - Reezumiku

Friday, December 6, 2019

5 Alasan Kenapa Harus Cabut Gigi Impaksi Secepatnya! [PART 2]

Nggak ngeri ta, Nis?
Gusi dibedah, gigi dibelah?!

Hm… Ini bukannya menakut-nakuti ya! Pastikan baca tulisan ini sampai akhir agar tidak salah persepsi.

Assalamualaikum… Sudah baca PART I Geraham Bungsu Tumbuh di Usia 20 Tahunan? Yakin Gigimu Normal?kan? Lalu gimana kondisi gigimu? Adakah yang mengalami impaksi? Yuk lanjut membahas tentang satu masalah kesehatan gigi yang satu ini.
 
https://www.practostatic.com/fit/d74b1db876df3a71f9c7dc1fd6cdf443ea9a25eb
Saat mendapat diagnosa Impacted teeth, dokter tak banyak berujar, hanya menjelaskan seperlunya lalu memberi rujukan. Namun bagiku, mendapati fakta tentang gigi impaksi merupakan pengalaman pertama dan akan selamanya menjadi yang pertama. Aku perlu tahu apa yang terjadi padaku sehingga menimbulkan rasa sakit yang tak bisa dijabarkan dengan kata seperti ini. Fyuh~~.

Jika mengetik kata kunci tentang gigi impaksi, maka akan muncul ratusan gambar, video, dan artikel yang bikin ngeri. Rasa takut lebih dulu menyiutkan nyali. Alhamdulillah, sedikit paham tentang dunia penulisan online, jadi aku bisa memilah mana yang harus aku baca dan mana yang toxic sehingga harus dihindari jauh-jauh.

Kalau ditanya, ‘apa nggak ngeri?’ maka aku pasti menjawab tegas, NGERI BANGET. Karena ketakutan itulah yang membuatku terus menunda untuk periksa ke dokter, takut prosesnya, takut hasilnya, takut sakitnya, takut resikonya, dan segala macam ketakutan para pemula.  Dan inilah lima alasan yang mampu meredam semua rasa takutku. Apa saja?


 Pertama…


Terus mengingat kondisi saat ngilu terjadi. Mungkin dihadapan orang lain, tampak tak ada yang salah pada diriku, terlihat sehat dan baik-baik saja. Nyatanya, dibalik segala rutinitas, aku harus menahan rasa sakit sambil bersikap normal.  

Rasa ngilu bisa terjadi sewaktu-waktu, nggak mengenal tempat, bahkan jangka waktunya bisa seharian-semalam sampai tak bisa tidur. Beda dengan sakit pada gigi berlubang, beda sekali. Ngilunya itu tak hanya di gigi namun terasa sampai rahang bawah (di area dagu) lalu menjalar ke atas, menjangkau pipi dekat telinga. Tak lama, jika terus dibiarkan pening mulai menjangkit kepala.

Alhasil, semua hal itu membuat konsentrasi buyar, kerja tak bisa fokus, lemas, tak ada tenaga apalagi semangat. Belum lagi ibadah, sulit sekali untuk konsentrasi, baru takbiratul ihram eh gigi udah nyut-nyutan. Mau baca quran bahkan baca buku saja itu sudah nggak ada minat jadinya.  Bawaannya pengen cepat-cepat meringkuk di kamar. Ugh… ini perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh kamu yang pernah mengalami sakit gigi. Sebab, tanpa merasakan langsung, kamu hanya akan bilang, “Gitu aja kok sakit! Lebih nyeri sakit hati, kaleee. Hm… terus aku bakal bilang,” MAU COBA NGERASAIN??”

Nah, saat mengingat masa-masa menderita inilah, maka rasa parno akan pencabutan gigi berubah jadi sebuah masalah kecil yang tak perlu dikhawatirkan. Intinya, aku nggak mau tersiksa lebih lama. Yes!


 Kedua…

 
http://www.perfectsmiledentalstudio.com/uploads/8/2/6/0/82600712/published/wisdom-teeth.png?1527008038
Alasan kedua cukup realistis. Rasa sakit yang semakin intens membuatku bergantung pada obat pereda nyeri. Padahal aku adalah orang yang lebih suka  ‘menahan sakit’ dari pada harus minum obat. Bahkan di saat flu atau pusing sekalipun, aku sangat menghindari obat dan pilih herbal atau rempah-rempah sebagai pengobatan. Jadi, saat sudah mengonsumsi obat maka artinya aku tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya alias sudah super sakit sekali.

Oleh karena itulah, aku menekan rasa takut pada operasi gigi impaksi agar bisa segera menghentikan diriku sendiri dari konsumsi obat. Titik.


 Ketiga…


Semenjak mendapati ketidaknormalan pada geraham bungsu, perlahan aku tak bisa makan semua jenis makanan. Padahal dulunya adalah pemakan segala tanpa pilih-pilih apapun. Awalnya dimulai dengan tidak bisa makan es dan minuman dingin, lalu mulai sering sakit saat makan yang keras-keras, semakin hari tak bisa mengunyah dengan sempurna.

Sejak saat itulah selera makan berkurang, jadwal makan berantakan, dan nutrisi tak terpenuhi lagi. Makin lama makin merasa kalau tubuh tidak sesehat dulu dengan pola makan yang kacau. Inilah sebabnya mending segera operasi daripada bertahan dengan siklus makan yang berantakan. Pengen banget bisa ngunyah sate, Ya Allah…


 Keempat…


Diusiaku sekarang, bisa dikatakan cukup terlambat mengetahui adanya gigi impaksi. Jika tahu lebih awal maka proses pencabutan akan lebih mudah karena akar gigi belum terlalu kuat. Selain itu, mendeteksi lebih awal juga mencegah kerusakan lebih parah. Sayangnya, aku baru tahu disaat rasa sakit sudah muncul yang perlahan menyiksa mulut. Andaikan paham dari dulu maka bisa segera mengambil tindakan sebelum si gigi merajalela (hehe).


 Kelima…


Ada kondisi dimana kita tidak bisa melakukan operasi gigi (pencabutan gigi), antara lain saat sedang hamil, ketika tekanan darah terlalu tinggi, saat hasil tes darah tidak stabil, maupun ketika sedang sakit. Sebenarnya yang benar-benar dilarang adalah wanita hamil muda atau sedang hamil tua. Sementara kondisi lain yang aku sebutkan tadi relative, namun lebih baik dicegah daripada menimbulkan efek samping yang lebih parah, kan?

Atas pertimbangan ini pula, mumpung aku belum hamil (OMG, btw kapan nikah ya :), mumpung fisik cukup stabil, dan sebelum akar gigiku semakin kuat, maka aku putuskan untuk melawan semua rasa khawatir dan takut yang tadinya menyelimuti pikiran.

Apakah semua gigi impaksi harus dicabut?

 
https://naenaedentalclinic.co.nz/assets/Uploads/_resampled/ScaleWidthWyI3MTQiXQ/Wisdom-teeth-extraction.jpg
Pertanyaan ini pun sudah pernah aku lontarkan pada dokter. Ia menjawab bahwa tindakan bisa berbeda-beda tergantung masing-masing kondisi. Jika menyebabkan sakit berkepanjangan seperti aku alami, maka lebih baik segera dihabisi.

Namun jika tidak sakit, maka cukup merawat gigi impaksi dengan telaten agar tidak bermasalah dikemudian hari.  Jika ada yang berlubang pada gigi impaksi, memang ada kesempatan ditambal jika lubangnya kecil. Tetapi, salah satu dokter yang aku temui lebih menyarankan dicabut karena tambalan pada gigi impaksi akan lebih cepat rusak dan sulit perawatannya.


Punya lebih dari satu gigi impaksi?


Peluang ini sangat bisa terjadi. Seorang temanku memiliki 4 wisdom teeth, sementara aku sendiri punya 3 buah. Kemudian dokter yang memberiku rujukan ke rumah sakit berkata bahwa pencabutanya akan dilakukan satu persatu dan itu termasuk dalam ‘operasi kecil’ yang harus dilakukan oleh spesialis bedah mulut (Drg. BM.)

Namun ketika tiba saatnya menjadwalkan waktu operasi di salah satu rumah sakit rujukan, aku diberikan pilihan, mau cabut satu persatu atau tiga sekaligus. Hey! Kabar tersebut membelalakkan mataku tiba-tiba. Kenapa harus ada pilihan cabut tiga sekaligus???

Melihatku bimbang, seorang perawat memberi waktu berpikir sambil aku mengurus beberapa dokumen kelengkapan. Akupun mulai memutar otak sambil berselancar di internet mencari para blogger yang pernah melakukan pencabutan gigi sekaligus. Tahukah yang aku dapati? BIUS TOTAL, TIDAK SADARKAN DIRI, OPNAME, DRYSOCKET, dan lagi-lagi rasa takut muncul.

Hampir satu jam aku duduk di salah satu sudut ruang tunggu rumah sakit, memandang hanphone, mengabaikan lalu lalang para pasien maupun keluarga yang sedang menghadapi lara. Pada akhirnya keputusan bulat jatuh pada pencabutan 3 gigi sekaligus. Tentu saja aku sudah menimbang-nimbang positif dan negatifnya.

Sayangnya, ketika mental sudah kuat, persiapan sudah terencana, rasa takut mulai memudar, namun ‘operasi besar’ ini tak bisa dilakukan karena kendala BPJS. Hm… Apa mau dikata, jika Allah telah berkehendak. Akupun harus melakukan pencabutan satu persatu dengan total tiga kali operasi kecil.

Lalu, bagaimana prosedurnya? Apa saja tahap-tahap yang harus dilalui pasien rawat jalan gigi impaksi dengan 3 wisdom teeth? Yang paling penting, butuh biaya berapa dan apakah BPJS bisa diandalkan? Lanjut ke postingan part 3 ya. Jika sempat akan aku tulis sebelum operasi, namun jika sering kumat maka harus aku tunda hingga pasca operasi. Semoga Allah mengijinkan…. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.


Sakit gigi nggak bisa senyum.
Jadi harap maklum.


No comments:

Post a Comment

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools